Before I Fall

Musim gugur, Canada 1979

Aku sangat muak dengan tumpukan-tumpukan daun kering yang berserakan di sekelilingku. Bisa kalian bayangkan betapa ironisnya, dibalik warna hangat yang menenangkan mata, justru musim gugur selalu dingin, menandakan musim bersalju akan segera datang. Betapa sialnya aku, karena harus menyingkirkan dedaunan ini dari jalanan sebagai hukuman atas ‘kesopanan’ yang kulakukan di sekolah. Kau tahu? Hanya masalah sepele. Mrs. Lynn yang duluan mengomentari buruknya wajahku karena jerawat yang mulai bermunculan satu persatu menjadi seribu—dengan nada mengejek tentunya. Sangat menyebalkan sampai-sampai aku yakin muncul tanduk dari atas kepalaku. Tentu saja hal ini tidak bisa kuterima begitu saja. Kubilang padanya kalau lebih baik memiliki wajah alami sepertiku daripada memiliki wajah hasil operasi yang hasilnya seperti blobfish. Dan, inilah yang terjadi sekarang. Aku hampir menyelesaikan hukuman—yang sebenarnya tidak mau kuanggap hukuman juga sih—sampai seorang gadis dengan syal merah dan rambut karamel panjang tergerai cantik menghampiriku.

"Hai, aku Maybell, Maybell Brown" ujarnya. Padahal aku tidak bertanya, tapi sebagai bentuk sopan santun karena dia cantik kubalas perkenalannya, "Ya, ha-halo. A-aku Stanley Jackson." Dasar kikuk. Aku menggaruk tengkukku yang tidak gatal, berharap bumi menelanku bulat-bulat sekarang juga.

Maybell tertawa lembut seperti marshmallow yang meleleh, "Kuperhatikan sedari tadi, mengapa kau tampak kesal sekali?" tanyanya.

"Siapa juga yang senang berada ditengah-tengah dedaunan yang mati sia-sia," jawabku agak ketus.

"Kau salah." sergapnya tiba-tiba. Aku mengerutkan alisku, apa yang salah dari ucapanku? "Daun-daun itu tak mati begitu saja, itu adalah sebuah pengorbanan." lanjutnya. Aku menatap mata hazelnya yang berbinar-binar penuh penghayatan.

"Pengorbanan untuk apa? tanyaku.

"Kadang, yang indah pun harus gugur agar yang baru bisa tumbuh ..." Suaranya menggantung. Aku menoleh ke arah Maybell yang sedang mendongak menatap ke atas seakan menghalau air mata yang akan tumpah. "… seperti ibuku." Ia tersenyum di akhir kalimatnya. Aku tidak tahu harus menjawab apa.

Kami berjalan beriringan di jalan taman yang penuh daun kering. Ia bercerita tentang keluarganya yang baru pindah dari Long Island, tentang anjingnya yang bernama Jelly, dan cita-citanya untuk menjadi model terkenal. Sangat masuk akal menurutku berhubung dia sangat cantik. Aku mendengarkannya berceloteh sepanjang waktu hingga pada akhirnya ia harus pulang. Walau terkesan klise, rasanya aku ingin waktu berhenti selama 5 menit lagi saja.

"Kau tahu? Aku suka daun maple karena ia paling indah ketika akan jatuh." Aku berpikir sejenak, "Jadi, maksudmu keindahan akan ada ketika sesuatu itu akan berakhir?" tanyaku. Ia tersenyum manis sekali dan menjawab, "Tidak juga, justru keindahan lahir karena kita tahu akhirnya akan datang."

“Suatu hari nanti, …” katanya lirih, “… kau akan mengingat hari ini dan berpikir bahwa musim gugur tidak seburuk itu.”

Aku menoleh. “Kau yakin?”

“Yakin,” jawabnya sambil tersenyum. “Karena pada akhirnya, semua orang akan punya satu musim yang mereka rindukan.”

Aku ingin bertanya lebih banyak tentang dirinya dan juga musim gugur yang dicintainya ini, tetapi pada akhirnya waktu benar-benar mempersingkat pertemuan kami yang memang singkat ini. Hanya bisa kupandangi punggung dengan rambut karamel dan syal merah anggun melilit lehernya perlahan menjauh dan menghilang. Bahkan, ia tak menoleh sedikitpun ke arahku sampai akhir. Malang sekali kau, Stanley!


Musim gugur, Canada 2025 

Tepat empat puluh enam tahun telah berlalu sejak hari berkesan itu. Kini aku duduk di halaman rumah kecil di Vancouver dengan secangkir coklat panas dan radio yang memutar lagu-lagu populer di kala itu, tahun 1979. Ditemani hawa dingin khas musim gugur yang membuat suasana semakin syahdu namun begitu sunyi. Dedaunan yang berguguran tak lagi mengusik pikiranku.

Maybell? Aku tidak pernah bertemu dengannya lagi sejak saat itu bahkan secara kebetulan sekalipun. Aku tidak tahu apakah ia masih bisa menikmati musim gugur sepertiku, apakah ia sudah menikah, atau apakah ia berhasil menjadi model seperti impiannya itu. Satu hal yang pasti, aku selalu merindukan musim gugur di tahun 1979 itu. Semua yang ia katakana benar. Pada akhirnya, aku memilih untuk selalu merindukan musim gugur yang sangat kubenci.

"Sesuatu yang indah harus gugur agar sesuatu yang baru bisa tumbuh..." ucapku lirih, bersamaan dengan habisnya hembusan napas terakhirku. Begitu pula dengan berakhirnya kisahku dan musim gugur yang semakin indah menjelang ajalku, karena aku tahu akhirnya akan datang.


Original by: Fathiyah Marzuqoh Az Zahra

Comments

Popular

Get to Know More About Psychoworld

#ranthings: When Things Don't Go As Planned

Yup, I Deserve Better: Pointing Out The Great Resignation

Normalize Mental Health