Normalize Mental Health
Pada zaman modern ini, ternyata masyarakat Indonesia masih memiliki stigma buruk yang beredar mengenai kesehatan mental. Anna Juwita Puspita Sari, M.Psi Psikolog menyatakan bahwa masih terdapat stigma negatif terhadap orang yang mengalami gangguan kesehatan mental (dalam Kuliah Online: Psikologi Klinis dan Kesehatan Mental pada Jumat (17/03)). Dalam data WHO juga menjelaskan bahwa masyarakat dengan gangguan kesehatan mental masih sering dipertemukan dengan diskriminasi, pelanggaran HAM, dan stigma negatif (World Health Organization/ 2023). Orang – orang di sekitar penulis pernah bercerita akan bagaimana mereka terkena diskriminasi hanya karena memerlukan bantuan psikologis.
Penulis pun pernah menyaksikan sendiri bagaimana kejadian ini terjadi di dunia nyata. Tentunya hal ini merupakan masalah yang sangat besar sebab kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Untuk menjalankan hidup sehat dan normal, kita perlu menjaga kesehatan mental maupun fisik. Tanpa kesehatan mental ataupun fisik, kita tidak akan bisa berfungsi penuh sebagai manusia atau bahkan bergaul dengan lingkungan masyarakat.
Salah
satu pernyataan penting yang diungkapkan oleh Anna Juwita Puspita Sari, M.Psi
Psikolog, yakni penyebab terbesar dari permasalahan ini ialah kurangnya edukasi
masyarakat mengenai kesehatan mental. Kebanyakan orang yang penulis temui
ternyata masih memiliki pengetahuan yang terbatas tentang kesehatan mental,
bahkan terdapat banyak miskonsepsi yang bertebaran. Tidak perlu jauh – jauh,
dalam media sosial yang kita gunakan setiap hari pun kita bisa melihat
bagaimana pandangan masyarakat terkait kesehatan mental. Jadi, alangkah baiknya
apabila diadakan program edukasi kesehatan mental ke masyarakat tidak hanya
dari media sosial, tetapi juga secara langsung. Tentu saja, daerah kota maupun
desa ataupun daerah pelosok perlu diraih untuk menyebarkan lebih luas mengenai
kesehatan mental. Wilayah pembelajaran seperti sekolah atau universitas
merupakan salah satu tempat yang ideal untuk melakukan hal ini, terutama pada
sekolah dengan murid yang masih berumur dini. Pemahaman ilmu ini akan lebih
maksimal apabila dipelajari sejak dini. Kemudian dibutuhkan tenaga ahli yang
memang berpengalaman dan terpercaya untuk meyebarluaskan ilmu ini. Selain itu,
semua sumber informasi tentang kesehatan mental yang ada juga perlu
menyantumkan sumber terpercaya, seperti jurnal, artikel, skripsi, atau hasil
penelitian lainnya. Dengan begini, akan lebih mudah bagi masyarakat untuk
mengakses ilmu kesehatan mental yang terjamin kebenarannya. Hal ini dapat
membasmi kesalahpahaman serta meningkatkan pemahaman dan kesadaran masyarakat
tentang betapa pentingnya kesehatan mental itu.
Referensi:
World Health Organization. (06 April 2023). Mental
Health. who.int. Diakses tanggal 10 April 2023, dari https://www.who.int/health-topics/mental-health#tab=tab_1
Comments
Post a Comment