Yup, I Deserve Better: Pointing Out The Great Resignation
“Pak, saya besok cuti kerja, ya!”
“Loh, kamu kan baru masuk hari ini?”
“Saya capek abis baca jobdesc”.
Greetings!
Halo, readers!
Lama banget nggak ketemu, ya. Tapi ada penjelasannya kok, heheh. Kita lagi
sibuk cari cara buat bangunin green day
soalnya September udah mau selesai, nih, wkwk.
Okay, okay, jokes aside ….
Mau bahas apa ya hari ini? Udah aku kasih hint loh, btw, di secuil fake convo atas
sendiri, tuh. Yup, salah satu dari beberapa fenomena yang lagi marak di dunia
kerja, yakni The Great Resignation! Silakan diterjemahkan mentah-mentah ya,
karena artinya memang nggak membuang sedikit pun dari judulnya. The Great
Resignation mengarah ke perilaku resign
besar-besaran yang beberapa tahun terakhir dilakukan oleh para pekerja,
terutama pekerja kantoran. Peristiwa ini cukup menarik sih buat aku, dan semoga
kalian tertarik juga. Beberapa poin utamanya bakal aku breakdown satu per satu di bawah,, ya!
First: OMG
WHY
“Kalo lembur bakal dapet duit lebih,
loh”
“Dih, hobi lo ngga menghasilkan banget,
ya”
“Libur? Apa itu libur? Aku hanya tau
tentang kerja”
Hustle culture bukanlah suatu hal yang baru lagi
bagi seorang pekerja. Mencari hobi atau pekerjaan sekunder untuk menambah
penghasilan, bekerja mati-matian untuk menunjukkan loyalitas pada perusahaan,
hingga terkadang mengesampingkan kehidupan pribadi agar bisa menjadi pegawai
teladan. Semua hal itu tidak dapat terhindarkan apalagi ketika kultur
perusahaan memang mengharuskan untuk bekerja terus-menerus dan menyulitkan
pengaturan work-life balance.
Akibatnya, tentu banyak pegawai yang merasa burnout
dan FOMO apabila mengalami kegagalan, ketertinggalan, dan sulit mengikuti
siklus yang terus berputar.
Ditengah-tengah itu semua, terkadang perusahaan malah
memanfaatkan “ketekunan” para pegawai dengan eksploitasi yang berlebihan tanpa
hasil yang setimpal. Perusahaan juga kurang memperhatikan dan mempertimbangkan
lingkungan kerja serta kesejahteraan karyawan yang menyebabkan dunia 9-5
semakin melelahkan untuk dihidupi. Lapangan kerja yang sedikit dan pelamar yang
banyak menyebabkan sulitnya berpindah tempat kerja. Pada akhirnya, setiap orang
pun berusaha mempertahankan posisi yang sudah dimilikinya masing-masing.
Second: WHY
THO
Angin segar yang bernama “kesadaran dan apresiasi diri”
sepertinya cukup membawa perubahan pada mindset para hustlers. Hidup mengikuti aturan dan siklus yang kaku memang tidak
dapat dipungkiri, sangat melelahkan baik fisik maupun jiwa. Beberapa orang yang
telah menyadari bahwa kecemasan yang berlarut serta berusaha lepas dari pola
kerja yang buruk mulai melirik opsi untuk mengundurkan diri. Mereka mulai fokus
untuk menempatkan ketenangan diri mereka sebagai tujuan yang utama. Terdapat
fenomena lain pula yang bernama quiet
quitting, yakni aksi para karyawan yang melakukan bare minimum dan done what it
needs to be done instead of doing more di tempat kerja. Hal ini mencegah
adanya stress kerja dan penumpukan beban pekerjaan yang tidak sesuai dengan job description-nya.
Angin segar ini kemudian ditunjang dengan adanya pandemi
Covid-19 yang mengharuskan mayoritas tenaga kerja untuk work from home (WFH). Kesempatan ini membuka pandangan baru bagi
para pekerja bahwa pekerjaan dapat menjadi sangat fleksibel dilakukan dari
rumah dan bahkan mereka dapat mencari pekerjaan tambahan dengan kualifikasi remote working. Dengan memilih tempat
kerjanya sendiri, para pekerja pun dapat mengatur bagaimana lingkungan kerja
yang diinginkan. Di Amerika sendiri, dari masa pandemi hingga awal 2021,
terhitung jumlah pekerja yang resign
mencapai 4,4 juta orang (U.S. Bureau of Labor Statistics, 2021).
Third: ok,
but why…
Kebanyakan karyawan melakukan resign untuk berfokus pada dirinya sendiri ataupun mencari
pekerjaan lain yang lebih fleksibel dan memberikan value dirinya dengan nilai maksimum. Namun, bagaimana jika dilihat
dari sudut pandang perusahaan? Tentunya akan banyak perusahaan yang mengalami
kerugian daripada keuntungan. Dengan menghilangnya karyawan, maka beban kerja
yang sebelumnya dapat terselesaikan akan menumpuk atau dilimpahkan pada
karyawan lain sehingga pekerjaan bertambah. Belum lagi biaya untuk open recruitment, training pekerja, serta biaya tambahan lain yang membutuhkan
pengeluaran besar.
Namun, ada beberapa trik yang dilakukan perusahaan atau
lebih tepatnya bagian human resources
untuk menanggulanginya, loh! Apa aja itu? Well,
mereka bisa menyediakan Flexible Work
Arrangement (FWA). Jam kerja 9-5 selama 40 jam seminggu itu udah kuno, iya
nggak sih? Maka dari itu, beberapa perusahaan menetapkan jam kerja bebas dengan
ketentuan jam kerja minimum yang bisa dinikmati karyawan. Dengan FWA, karyawan
dapat menyesuaikan dan mengatur sendiri waktu yang baik untuknya bekerja
(Chamberlain, 2021; Kalita, 2021; Microsoft, 2021). What else? Perusahaan juga dapat menyediakan attractive compensation dan proper
support bagi para pegawainya. Hal-hal ini dapat menekan keinginan karyawan
untuk mengundurkan diri apabila dilakukan dengan benar karena akan membuat
karyawan merasa diapresiasi.
Hm, I didn’t expect it
to be this long but here it is. In conclusion, we are the only one yang
tahu kapasitas dan value kita masing-masing. So, kitalah yang mampu mengarahkan diri kita sendiri mau kemana
kedepannya, yes or yes? Terima kasih
yang sudah membaca dari awal sampai akhir. Aku undur diri, ya. Farewell!
Your Crumbs,
Cherry
Phenomenon
Sources:
Hopkins, Joseph C. (2021). The Great Resignation:
An Argument for Hybrid Leadership. International Journal
of Business & Management Research, 9(4), 393-400. DOI: doi.org/10.37391/IJBMR.090402
Sull, Donald. (2022). Toxic Culture is Driving The Great Resignation, https://www.acmpnorcalchapter.org/changemanagement-articles. Diakses pada 26
September 2022 pukul 14.05.
Tessema, Mussie T. (2022). The “Great Resignation”: Causes,
Consequences, and Creative HR Management Strategies. Journal of Human Resource and Sustainability Studies, 10(1). DOI: 10.4236/jhrss.2022.101011
Narration
Sources:
All of those above and my thoughts.


Comments
Post a Comment