Serenade

 


Jeruji besi, rumah saya,

Malang, 1990.


Catatan ini sebenar-benarnya pencemoohan bagi lelaki pengecut yang enggan bersambut dengan keagungan rasa, teringin mencinta apa yang seharusnya dicinta, Saya. Tergulung segerombolan rahsa tak elak menjatuhkan saya jadi macam begini. Saya rela mati bila dipertemukan kembali dengan netra yang masuk terlalu dalam, mencekik kewarasan saya hingga terbui tanpa kendali.  Pula hati ini kerap terheran-heran — bagaimana Tuhan dengan luar biasa menghembuskan ikatan di antara ciptaan-Nya. Manusia hanya seonggok daging bernyawa yang perlu mengendus jalan untuk tetap menemukan setapak yang akan menuntun jauh, entah diterima atau justru berbalik arah. Dengan sembrono kami — manusia, terseok namun juga angkuh untuk patuh. 

Catatan ini ditulis saat saya berhasil menebus dosa saya. Menghardik rasa yang turut dibawa pergi oleh ia yang mati. Sukma dengan keanggunan mutlak bergelut bersama persakitannya tanpa pernah tersentuh oleh saya. Dia terisak tanpa pernah tau batin saya pula terkoyak. Bukan soal rupa, namun sorot kebahagiaan yang betulan asing bagi saya membuat saya jengkel setengah mati namun jatuh cinta pula. Melihat gadis seusianya yang bersolek, tak ayal membuat saya kembali menolak kehadiran rasa. Ah, bagaimana mungkin? Batin saya. Tetapi manusia — sekali lagi hanya menerima atau pergi tanpa tau apa yang telah disia-sia. Saya juga seringkali berandai-andai merengkuh raganya, menyalurkan kehangatan yang tak sebanding dengan hangat batinnya. Mendengungkan alunan lembut perihal ia yang tak perlu bersusah payah bergelut memahami dirinya, karena itu tugas saya. Walau saya tahu sekali, saya tidak akan pernah mendeklarasikan seutuhnya bahwa saya telah jatuh padanya, dulu. Gendhis Senjana, yang saya cinta. 

Sebelumnya, saya tidak pernah membayangkan harus hidup dalam bui selama sisa saya menghembuskan napas. Saya seorang terkasih dari kekasih yang telah mati. Terindu dengan bapak, ibu, dan kawan-kawan pada masa saya masih menghirup aroma teh jahe hangat yang setiap hari saya tenggak. Pula, saya tidak pernah membayangkan akan hidup bergelimang rindu, tumpah ruah dalam serentetan perihal alunan kata majemuk. Rasa, bagaimana saya mampu menghadapi kematian demi dia yang menawarkan racun melalui bunga tidur saya, selalu dan terlalu indah. Ah, mampus! Nampaknya saya akan pergi dengan kasih yang ia sisipkan dalam setiap gemuruh hati tak bertepi. Mari, saya ajak untuk jatuh cinta kepada Gendhis. 

Malang dengan segala anggun serta kemasyhuran luar biasa kala itu. Terharum merdu beriringan tanah kecintaan yang semakin basah. Wewangian sejatinya tak elak datangnya dari kemakmuran harsa dipenghujung hari. Sebetulnya, saya tak tahu pantas tidaknya menjelaskan Gendhis dengan rentetan kata picisan milik saya, namun Demi Tuhan, sisa hidup saya miliknya. Tuhan membuat Gendhis dalam bentuk yang paling sempurna dimata saya. Ayunya yang hanya miliknya membuat saya telak jatuh cinta. Gendhis, berbeda. Ia tak tumbuh sebagaimana gadis seusianya tumbuh. Tergagap, terbata, dan meraba untuk apa yang akan dia lakukan dan katakan. Saya sering melihatnya dibuat bodoh oleh para bajingan yang sok berani, menindas orang yang jelas-jelas tak mampu melindungi dirinya sendiri. Sialan, saya kembali mendidih.

Saya, yang hanya mampu mengutuk para bajingan yang telah merenggut jiwa kekasih saya. Seorang pecundang yang tak mampu menerima rasa yang luar biasa hebatnya pada sosok Gendhis. Yang selalu menatap belahan hatinya dari jauh, tak menumpu harap saat gadisnya tengah terluka, namun mengangkat jari untuk dijebloskan diri dalam bui untuk menebus rasa bersalahnya. Demi Tuhan, bukan saya yang membunuhnya. Para bedebah yang entah dari mana itu memukul tubuh ringkihnya yang tak ayal membuatnya tumbang. Iya, saya ada di sana. Melihat semuanya, melihat darahnya, menatap netra sendunya, mendengar teriakannya, merasakan sakitnya, namun tidak bergerak. Saya membisu sampai mereka selesai dengan panik saat menyadari Gendhis sudah tak berjiwa. 

Andailah Tuhan mau mengampuni saya yang membiarkan hamba-Nya serta cinta saya mati sia-sia. Andailah.


Kekasih dari yang telah mati,

Yogi Wicaksono, 1990.


Comments

Popular

Get to Know More About Psychoworld

#ranthings: When Things Don't Go As Planned

Yup, I Deserve Better: Pointing Out The Great Resignation

Normalize Mental Health