The Pain that I’ll Keep Forever
I think it’s ok if I’m a bit sad forever
It will remind me that you were real
Halo. Pie is speaking! Kali ini aku mau cerita dan curhat sedikit (nggak janji bakal sedikit, sih) ke teman-teman semua. I hope ceritaku dapat tersampaikan dengan baik, yaa ….
Sekitar dua bulan yang lalu, aku kehilangan salah satu sosok perempuan hebat di hidupku. My grandma. I was sobbing alone in my room, selain karena merasa kehilangan banget, aku satu-satunya cucu nenek yang nggak bisa hadir di rumah duka karena aku jauh di perantauan. Waktu dengar kabar itu pertama kali, perasaan dan pikiranku kacau banget karena bingung harus apa. Kalut dan hilang arah banget. Rasanya mau ikut menghilang dari Bumi karena aku takut banget. Akhirnya saat itu, aku cuma bisa menelepon mamaku. Di telepon, mama cerita sedikit tentang detik-detik kepergian nenek dan bilang jangan lupa doain beliau agar tenang di sisi-Nya. And of course I did.
And then, hari itu berlalu seperti biasa walau hatiku rasanya kosong banget seolah-olah jiwaku ikut pergi bersama beliau.
My biggest fear ketika merantau yang ternyata harus aku alami: Kehilangan seseorang yang kamu sayangi saat jauh dari mereka.
Sampai sekarang pun, sering tiba-tiba nangis karena selalu terbayang beliau. Waktu lagi makan, lagi jalan-jalan, lagi belajar, lagi masak, lagi nonton YouTube, bahkan waktu tulisan ini diketik masih nangis. Padahal, aku berusaha banget menyibukkan diri karena waktu itu udah libur semester dan aku ngga ada kesibukan. So,I didn’t have many options selain banyakin kegiatan. But who am I fooling? I still can't control the pain that suddenly appeared in my chest. Intinya, kehilangan seseorang beneran ninggalin luka mendalam yang aku pikir ngga bakal bisa disembuhkan seperti luka-luka lainnya.
Tentunya, memang ada kondisi psikologis di baliknya. Berdasarkan source yang admin pie cari, kira-kira begini katanya:
"Grief often includes physiological distress, separation anxiety, confusion, yearning, obsessive dwelling on the past, and apprehension about the future. Intense grief can become life-threatening through disruption of the immune system, self-neglect, and suicidal thoughts.
Grief may also take the form of regret for something lost, remorse for something done, or sorrow for a mishap to oneself."
Dari secuil informasi di atas, I can say that my condition is a normal thing to happen when I experience loss. Teman-teman juga pasti sudah banyak yang familiar sama 5 stages of grief, kan? Yup, di dalamnya ada denial, anger, bargaining, depression, and acceptance. Probably, I'm still struggling in stage two, alias anger kali, ya? Hehe, coba deh, teman-teman sambil belajar analisis, kira-kira Admin Pie masuk di stage mana melalui konten kali ini? Intinya, I’m not yet healed from this painful thing.
There are many reasons why this hurts so much, and one of the reasons is that she also had so many wounds in her life. Ya, mungkin beliau memang berpulang dalam keadaan berhasil dan bisa menikmati masa kejayaannya. But, life is unfair for my grandma and my heart hurts for her for many things. Di mana waktu beliau ada di breakdown phase, Admin Pie kecil menyaksikan itu. I witnessed it. And I couldn’t do anything then because I was just a little girl. But, kenangan itu kebawa terus hingga sekarang. So, I keep wondering, “did she die happy? did she forget those painful things when she left us?” Or, maybe I’m just worrying too much?
Ada sebuah hukum tidak tertulis bagi banyak orang ketika ada anggota keluarga atau orang terdekat yang meninggal. Mereka bilang, “Jangan terlalu sedih berlebihan. Almarhum lebih tenang di sana. Kita harus kuat jalanin hidup kita seperti biasa,” or something like that. Di keluargaku pun juga begitu, kemarin aku dilihatin situasi setelah pemakaman berlangsung. Aku lihat keluargaku sudah terlihat kembali ngobrol dan makan-makan bersama layaknya ada perayaan biasa di rumah nenek. I know they all sad, but they look like they're trying hard to cover up their sadness. Menurut aku, kalimat dan sikap seperti itu kesannya seperti 'memaksa' kita untuk menunda kesedihan karena berpikir, "Ya yang mati biarlah mati, dan kita yang hidup tetap harus melanjutkan hidup." But, I realized that aku masih nggak bisa ngelakuin itu karena kaya yang tadi aku bilang di atas, kalau aku pun beneran bisa tiba-tiba nangis because the sadness hits everytime I feel good when I’m doing my things. And it’s getting worse when the sadness turned to rage for pretending as if I was okay when I shouldn't be okay. Kalian tau ngga sih guys apa ketakutanku berikutnya? I’m scared I'm slowly forgetting how her voice sounded. I’m scared that I can really live without her, which in reality I don’t think I can.
I feel like it’s something that I have to live with for the rest of my life.
Seolah-olah ada bagian dari dalam diri aku yang bilang, “Kalau aku mau berduka selamanya memang kenapa?” karena aku nggak mau perlahan mengikis memoriku tentang beliau. Rasanya seperti berusaha menghapus semua hal tentang mereka yang sudah pergi dari kehidupan, when we act nothing happened as coping mechanism. And, I don’t want that to happen.
So yes, there’s a big hole in my heart that I’d rather it be left like that forever.
Source:
My own experiences and,
https://www.apa.org/topics/grief
Comments
Post a Comment