REVISI UNTUK TUHAN: TENTANG MALANG
Saya
salah satu makhluk di semesta ini yang diciptakan oleh tangan Tuhan, tentu
saja. Entah kapan hasrat-Nya muncul untuk menciptakan saya, yang jelas saya tiba-tiba
menjadi bagian penghuni Bumi semenjak belasan tahun lalu.
Kali
ini saya ingin mengajukan demonstrasi, revisi, kepada Tuhan. Tentang Malang.
Menghasut kalian? Oh, tentu tidak. Tidak perlu. Saya juga takut dosa, pemirsah.
“Astaga,
lalu kau bernyali besar mengajukan revisi kepada-Nya? Mana ucapan kau yang
takut dosa?”
Yap,
sebelum itu mari bersyukur sejenak kepada Tuhan karena sudah menciptakan saya,
juga menciptakan Malang.
“Lalu
kami, para audiens? Kau tidak mengucapkan rasa syukurnya sekalian karena telah
menciptakan kami?”
Yaa,
silahkan bersyukur sendiri. (  ̄ω ̄)
Baik,
akan saya lanjutkan demonstrasi ini.
Tahun
ini saya melihat berbagai sudut kota Malang, demi apa pun, sungguh indah. Pasir
putih terhampar di sepanjang dataran pantainya. Oh, dataran hijau juga tentu
ada. Seolah tanah, air, dan udara di Malang ini bekerja sama untuk menampilkan
sisi terindahnya. Membuat saya– dan tentu saja kalian juga–berusaha untuk menciptakan
konstruk dengan alam dan lingkungannya melalui suatu hal yang kita kenal
sebagai Nature Relatedness. Nah, dalam pendekatan psikologis
evolusioner, kita punya kebutuhan instrinsik untuk berafiliasi dengan alam. Gitu
ges, teorinya.
“Duh,
teori lagi.” (・ˍ・*)
Ngga
kok. Udah, segitu doang. Jadi intinya, saya–dan kalian–punya kecenderungan
untuk berinteraksi dengan mereka—alam itu sendiri.
Lalu,
apa yang perlu kita revisi dari ciptaan-Nya itu, bukankah hamparan pasir putih
di sepanjang pantai telah memanjakan matamu? Bukankah dataran hijau yang
luasnya tak terhingga itu membantu bibirmu menyeringai bahagia? Yap benar, itu
benar. Tapi, revisi saya kali ini, mengapa Tuhan tidak menciptakan langit yang
indah untuk Malang usai senja menghilang. Mengapa Tuhan pelit sekali
menunjukkan kerlap-kerlipnya bintang di malam hari saat Malang dianggap
seolah-olah tiada kurangnya. Berbeda sekali dengan belahan bumi lain. Kita
tentu saja juga ingin menengadah ke atas dengan senyuman manis sambil
menyaksikan ribuan bintang yang melintang di langit-Nya.
Baiklah,
mulai hari ini saya deklarasikan bahwa hal itu tidak masalah. Tuhan memang tidak
menciptakan Malang dengan bintang-bintang yang bertebaran di langitnya, tapi di
dasar lembah. Iya benar, dasar lembah. Tak kalah cantik ciptaan atas kerja sama
Tuhan dan makhluk-Nya ini. Mustahil bibirmu tak menyeringai menyaksikan
bintang-bintang itu, bintang yang tak perlu kau lihat sambil menengadah ke atas
langit.
Eh
sebentar, tapi revisi ini tetap saja akan saya sampaikan untuk Tuhan. Tidak ada
salahnya bukan Tuhan memberikan keduanya untuk Malang. Bintang di atas langit, juga
bintang di dasar lembah. Rakus sekali memang. Jujur saja, kalian pasti juga
menginginkan hal yang sama. Semoga saja Tuhan menyempatkan diri untuk membuka unggahan
Psychoworld kali ini, membaca tulisan saya—dari makhluknya yang tidak
tahu harus menuliskan apa saat diminta untuk menggarap unggahan di sini.
Comments
Post a Comment