Positive Thinking for Positive Life
Holaa guys, kita ketemu lagi
Kali ini aku pengen ngobrolin satu istilah yang beberapa hari terakhir selalu ada dipikiran aku. Mungkin ini bisa jadi pandangan baru buat kalian yang mencoba mengelola pikiran, terutama buat yang sering overthinking nih. Oh iya, btw aku disini nggak akan maksain pandangan ini terhadap kalian ya karena aku hanya mau sedikit sharing aja, so kalian juga bisa ngasih pendapat soal topik ini.
Yeah, aku bakal ngebahas tentang the law of attraction atau biasa dikenal hukum ketertarikan. Mungkin sebagian dari kalian ada yang asing dan ada yang udah tau sama istilah ini. The law of attraction ini berkaitan dengan apa yang kita yakini maka hal itulah yang kemungkinan besar akan terjadi. Bisa dikatakan ketika kita berpikir negative tentang suatu hal, maka hal itu kemungkinan besar memang terjadi, begitupun ketika kita berpikiran positif.
Coba deh kalian tanya sama diri kalian sendiri.
Pernah ngga sih kalian merasa negative thinking tentang sesuatu dan ternyata hal itu bener-bener terjadi? Atau kalian pernah nggak merasa yakin sama sesuatu dan keyakinan kalian itu benar?
Jujur, ternyata tanpa sadar aku pernah mengalami hal ini. Kaya aku pernah berpikiran negatif tentang suatu hal dan itu benar-benar terjadi. Mungkin beberapa dari kalian juga pernah mengalami hal serupa.
Oke, aku bakal cerita sedikit mengenai hal-hal yang baru aja aku sadari. Dulu sebelum ikut tes jalur masuk di salah satu sekolah tinggi, aku pernah berpikiran bahwa aku tidak akan lolos dalam seleksi itu, sebaik apapun aku berusaha aku nggak akan bisa karena menurutku itu mustahil. Dan yaa, akhirnya terbukti ketika aku melihat nilai hasil seleksi, dalam segi nilai aku memang lolos bahkan jauh dari minimal nilai yang ditetapkan untuk bisa lolos. Tapi karena terdapat sistem kuota, ternyata posisiku semakin hari semakin turun seiring seleksi di sesi-sesi selanjutnya, akhirnya posisiku digeser oleh nilai-nilai yang lebih banyak dari nilaiku dan aku tidak masuk dalam kuota yang diterima.
Mungkin pada saat itu aku marah sama diriku sendiri, aku kecewa. Aku telah lolos seleksi dengan nilai cukup baik, tapi sayangnya karena keterbatasan kuota dan aku digeser oleh nilai-nilai yang lebih unggul maka aku gagal. Aku sempat berpikir, kenapa? Kenapa harus nggak lolos padahal nilaiku masuk? Kenapa aku harus nggak diterima saat harapan itu ternyata ada? Mungkin bisa dikatakan keberhasilan dan kegagalan itu bisa disebabkan dari berbagai faktor yaa.
Tapi aku berpikir lagi, bukankah aku memang sudah mempersiapkan kegagalan? Ya, aku akui bahwa aku seolah mempersiapkan kegagalan, aku hanya berpikir sedikit kemungkinan untuk bisa diterima. Pada saat pengumuman nilai dan aku melihat nilaiku lolos, aku baru melihat harapan yang sebelumnya nggak aku lihat karena aku hanya berpikir tentang kemungkinan untuk gagal. Kenapa aku nggak melihat kemungkinan untuk berhasil sebelumnya?
Mmm, sedikit menyesal sebenarnya.
Tapi dari hal itu aku sadar satu hal, pada saat itu aku hanya fokus pada kegagalanku, bukan pada kemungkinan aku akan diterima. Padahal aku bisa saja mengalihkan pikiranku untuk berpikir bahwa aku bisa, aku mampu, dan aku akan lolos. Tapi ya sudahlah, ada hal besar dibalik itu, yaitu pembelajaran dan di detik ini aku tau maknanya.
Huhuu
Sama seperti cerita mengenai persepsi negatifku. Dulu karena aku sudah capek dengan kemungkinan-kemungkinan buruk di otakku, aku hanya meniatkan bahwa aku ingin belajar tanpa berpikir lagi mungkin aku akan gagal. Pada titik itu aku sudah merasa pasrah, jadi kalaupun aku gagal ya tak apa, aku tak perlu ragu dan aku tak mau larut dalam kegagalan sebab aku masih dapat mengejar apa yang belum ku kejar, yang perlu ku lakukan hanya belajar dan lolos di seleksi perguruan tinggi lainnya. Sampai akhirnya aku benar-benar diterima di jurusanku saat ini, padahal aku tidak pernah terpikir sebelumnya bahwa aku akan ambil jurusan ini, karena yang kutau aku hanya harus keterima di perguruan tinggi tahun itu.
Saat ini aku benar-benar tau bahwa ada hukum tarik menarik, mungkin ada beberapa yang berpendapat bahwa hal ini nggak valid, hal ini nggak benar-benar bisa berlaku untuk diterapkan dalam segala kondisi, tapi apa salahnya mencoba. Bahkan aku menemukan point penting, bahwa kita harus berpikiran positif dengan kemungkinan yang ada, karena meskipun hal itu terlihat mustahil menurut kita, belum tentu hal itu benar-benar mustahil.
Sebenarnya dalam ilmu psikologi sendiri ada istilah yang berkaitan dengan the law of attraction loh, yaitu outcome expectancies of optimists and pessimist yang berarti persepsi seseorang baik pesimis ataupun optimis dapat berpengaruh terhadap kemungkinan apa yang bisa terjadi. Hal itu juga berkaitan dengan yang namanya self fulfilling prophecy, dimana apa yang kita bayangkan akan mendorong apa yang kita lakukan.
Wow, keren ga sii. Kayak perilaku kita itu mendukung apa yang sebenarnya ada dipikiran kita gitu.
Bisa dikatakan kalau the law of attraction ini berkaitan dengan pikiran kita yang menarik hal-hal baik maupun buruk yang datang ke diri kita. Hal itu dikarenakan perilaku kita cenderung mengikuti apa yang kita pikirkan.
Nha, sekarang udah tau kan gambaran mengenai the law of attraction yang juga dijelaskan alasannya secara psikologis.
Gimana? kalian pernah nggak secara nggak sadar mengalami hal ini dan ternyata sekarang baru tau?
Tetapi perlu diingat yaa, bukan berarti setelah kita berpikir positif terkait masalah maka semuanya akan selesai seperti apa yang ada dipikiran kita. Mungkin nggak semua hal yang menerapkan the law of attraction seratus persen berhasil, tetapi setidaknya berpikir positif di suatu hal mampu membuat kita lebih tenang dalam menghadapi masalah. Berpikir optimis juga membuat kita lebih semangat untuk menjalani hidup. Berpikir optimis membuat kita berpikir mengenai makna hidup yang lebih berharga.
So, guys. Ayo kita berpikir lebih optimis dibandingkan berada pada pemikiran pesimis, terutama buat yang sering overthinking dan terus-terusan mikiran hal-hal negative tentang masa depan maupun hal buruk yang sebenarnya itu belum tentu terjadi, dengan hal-hal buruk yang terus berputar di kepala itu hanya akan membuat diri kita semakin merasa gagal lohh.
Oke guys, segini dulu cakap-cakapnya yaa. Thanks, semoga yang sedikit ini bisa menjadi insight buat kita semua.
See u next time guys.
Pennapple
Inspirations :
Gruman, J. A., Schneider, F. W., & Coutts, L. M. (Eds.). (2016). Applied Social Psychology: Understanding and Addressing Social and Practical Problems (3rd ed.). SAGE Publications.
Comments
Post a Comment