I SURVIVED 2022!!! (lucky me i guess)
I SURVIVED 2022!!!
(lucky me i guess)
“Resolusi 2023 mu apa?”
“Balik ke tahun 2010.”
Greetings!
Pasti dari kalian ada yang mikir, “aduh mepet banget sama tahun baru nih. Mau ngomongin apa sih? Penting banget?” Hm, enggak sih jujur…
But, sesuatu yang aku ingin ceritakan ke kalian dan di tanggal ini, di jam ini adalah waktu yang kurasa tepat. (Btw, ini tanggal 31 Desember 2022 jam 22:17). Ini mengenai esensi 2022 untukku dan aku akan super subjektif. Jadi kalau kalian adalah tipe orang yang cuma baca hal-hal yang relate, aku cuma bisa bilang be careful.
Okay, lanjut…
So, 2022.
Hm…
Baby, let’s just go back to 2019.
Aku nggak tahu kenapa, tapi something in me stopped growing and existing since 2019. Back way before Covid-19 happens dan kita harus dihadapkan dengan semua adaptasi-adaptasi yang gahhhh. Aku lelah kalau mengingat semuanya. Betapa semuanya berubah dan juga hidup tidak bisa diminta pause sejenak untuk mengambil napas.
Banyak hal baik terjadi padaku di tahun 2019. Masa terakhir SMA dimana aku diberkati teman-teman baik yang sangat susah untuk ku lepaskan. Emosiku sedang dalam puncak stabilnya dan bel bahagiaku rasanya tidak pernah berhenti berdering.
Tapi kemudian, Covid-19 datang and the rest was just history. Rasa bingungku melebihi segalanya dan pada waktu yang bersamaan, aku sudah pasrah karena ya… aku bisa apa? Cuma cewek mageran yang suka protes dan mengeluh. Jadinya, dengan semua perubahan karena pandemi itu, porsi protes dan mengeluh bertambah beberapa tingkat. Lebih menjengkelkan tentunya. Tapi kulihat orang lain juga lebih menyebalkan, jadi kurasa impas. Not such a nuisance to society I suppose.
Never mind, 2016 is better.
Tapi perasaan yang ku ingat pada 2019 jauh berbeda. Pada saat itu, yang ingin kulakukan adalah kembali menyelami 2016. Dimana pada waktu itu, aku merasa bahwa 2016 adalah waktu terkeren. Pada kerasa ngga sih, semua musik populer yang rilis di tahun itu was such a bop dan beneran screamed “this is 2016!”?
Apalagi ya yang terjadi di waktu itu? Untukku, hm, banyak hal-hal yang kusadari? Aku mulai melihat hal-hal sekitar sebagai remaja pada umumnya? Labil, carefree, berapi-api hahah what a good time. Oh, dan aku juga berhasil lepas dari jeratan first love yang katanya sangat memorable dan diagung-agungkan itu. Kalau kalian apa peristiwa 2016 yang diingat? Oke, lupakan aku ngga mau tau karena aku yakin seratus persen mereka semua bagus!
Dan aku di 2016, sama seperti diriku di masa depan yang tidak ada rasa bersyukurnya ini, tentu saja mengira bahwa itu masa yang 😒😒😒. Kurasa, di waktu itu, diriku di tahun 2016 kesal karena aku sudah mulai diminta bertindak sebagai orang dewasa. Yeah, mulai banyak tuntutan dan mulai banyak “pikirkan orang lain juga” yang membuatku sering memutar mata. Aku ingin kembali ke masa kecil, masa yang lebih muda.
2010 was best BEST! Fax, no printer!
Life was simpler at that time. No FOMO, no cellphone addiction, no tiktok trends or any other sosmed yang ngebuat orang somehow disconnected from reality but alive in another reality (what does that even mean, duh).
Itu masa-masa dimana internet mulai wajib secara global. Masa dimana musik, video, teman, dan curhatan bisa di share secara masal di jejaring sosial. Not to mention, the roaring boyband at that time, one direction yes. Sedikit promosi, but dari mereka lah aku mulai melirik budaya dan artis-artis luar Indonesia, don’t judge me.
And the best part of 2010 adalah aku belum cukup dewasa untuk diminta ikut memikirkan jalan keluar berbagai masalah. Sepertinya masalah terbesarku saat itu adalah bingung perbedaan antara KPK dan FPB atau bagaimana caraku bisa mendustai guru bahwa kakakku yang mengerjakan tugas prakaryaku.
Semuanya tentang 2010 feels so nostalgic and… human. Aku rindu masa-masa dimana jantungku berdegup kencang ketika disuruh demonstrasi roll depan, bukan ketika kelupaan tidak mengecek whatsapp. Atau masa dimana sosok pengajar didepan marah karena buku tulis tidak disampul coklat, bukannya tidak membaca tumpukan jurnal internasional untuk jadi sedikit lebih berwawasan. I miss those times.
So, 2022…
Entah apa yang harus aku ceritakan tentang tahun ini. Sebagian teman-temanku menganggap ini tahun jatuh bangun. Sebagian lainnya nampak bersenang-senang mengumpulkan arsip ‘recap 2022’ sepanjang tahun. Untukku? Sudah jelas, bukan? Nampaknya, 2022 untukku hanya sebagai pengingat betapa berbedanya diriku dan situasiku sekarang dengan tahun-tahun yang kuingat sebagai ‘tahun terbaik.’
Sejujurnya, aku tidak ingin mengatakan ‘selamat, kalian sudah berjuang’ atau ‘terimakasih karena tidak menyerah’ atau ‘tahun depan akan lebih baik’ karena hm, itu jauh dari yang aku rasakan. Mau apalagi yang harus kulakukan jika tidak terus berjalan? Walau terluka, walau merangkak, walau sudah tidak berbentuk, ya, this is who I am and now this is where I am.
Bagus untuk kalian yang memiliki afirmasi dan harapan positif, tapi sudah kukatakan di atas sana, bahwa aku akan subjektif. Dan karena aku egois, maka keseluruhan esai ini juga akan tentang aku.
Jadi, untuk kalian yang mengakhiri 2022 dengan dagu diangkat dan rasa puas di dada, aku ikut senang untuk kalian. Tapi untuk kalian yang menangis di malam pergantian tahun ini, aku juga akan menawarkan sapu tanganku dengan harapan kalian puas menangis tanpa terjeda.
Untuk kalian yang menyambut 2023 dengan senyum dan daftar panjang keinginan, semoga kalian dijauhkan dari rasa kecewa. Dan untuk kalian yang menatap 2023 dengan muka masam dan pikiran “year after year after year,” aku persilahkan kalian merasakan seberapa lama perasaan itu bisa bertahan.
Terimakasih banyak sudah bersamaku sepanjang ocehan membosankan diatas. Hehe semoga kalian selalu menantikan unggahan Psychoworld baik blog maupun instagram, ya ya? Farewell!
“Resolusi 2023 mu apa?”
“Balik ke tahun 1990-an”
“Bukannya kamu belum lahir?”
“Ya, makanya…”
Your Crumbs,
Cherry
Narration Sources:
This thing called brain and a pretty emotion called annoyance.
Comments
Post a Comment