namanya adalah Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, dan surat ini kutulis untuknya

Aku adalah orang yang sangat pelupa. Aku melupakan segala hal dengan mudahnya—aku bahkan tidak ingat aku makan apa saat sarapan—dan demi apa pun, aku selalu melupakan nama orang hanya dalam tiga detik setelah berkenalan. Namun, ibuku selalu berkata, “Bidadari Kecil, boleh saja kau lupakan nama orang, tetapi jangan pernah lupakan hal baik yang mereka lakukan untukmu”. Jadi, karena itu aku selalu berusaha untuk berterima kasih kepada setiap orang yang pernah membantuku, siapa pun dan sekecil apa pun bantuan itu.

Namun tentu saja, karena Bidadari Kecil adalah seorang yang pelupa, aku lupa untuk berterima kasih pada satu orang yang sangat penting di hidupku, orang yang telah berada di sisiku sejauh aku bisa mengingat. Orang yang tidak pernah menyerah terhadapku, dan hingga sekarang masih bertahan bahkan setelah semua kesalahanku. Maka, sebelum aku lupa lebih jauh, kubuat tulisan ini sebagai bentuk terima kasihku padanya. Dia pantas mendapatkan ini.

Namanya adalah Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, dan ini surat yang kutuliskan untuknya.

Halo, Aku yang Berusia Enam Belas Tahun (namamu panjang sekali, tapi tidak apa). Masihkah kamu mengenaliku sekarang? Mungkin iya, mungkin juga tidak. Aku tahu kamu akan sangat terkejut membaca surat ini, iya, kan?

Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, mungkin kamu tidak lagi mengenal aku. Namun, aku tahu kita sama-sama ingat; bertahun-tahun dulu, aku sudah memutuskan untuk mengakhiri segalanya. Aku tidak lagi peduli apakah aku ingin melihat matahari esok pagi. Kamu di sana bersamaku, di kamar mandi kamarku yang sunyi, berpikir; "seandainya saja ada yang bisa memeluk kita saat ini, kita akan bisa melewati semua ini".

Tidak pernah terpikir bagiku untuk menaruh tanganku di sisi tubuhmu, memeluk dirimu. Mengapresiasi setiap kerja kerasmu, setiap usahamu. Yang kulakukan hanya menghinamu, menyakitimu, melukaimu. Padahal kamu sendiri juga sudah penuh luka dan kesakitan amat sangat. Padahal aku, lebih dari semua orang, tahu kalau jauh di dalam sana kamu menangis dan meraung meminta serpihan belas kasihku.

Percayalah, Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, jika aku bisa memutar waktu, aku akan mengunjungimu. Menghapus air matamu, memelukmu erat. Memberitahumu untuk terus berjuang. Aku tahu kamu akan terus berjuang, tetapi aku sangat ingin kamu tahu, perjuanganmu tak akan sia-sia.

Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, terima kasih, ya. Terima kasih karena tidak menyerah saat itu juga. Saat tali yang tergantung dari bingkai jendela kamar mandiku waktu itu seperti menggodamu untuk memakainya. Saat silet yang kamu genggam rasanya mirip sekali dengan penebusan rasa sakit. Saat cerminku yang kamu pecahkan melontarkan hinaan dan makian untukmu.

Terima kasih karena kamu memilih untuk tetap berjuang, terima kasih karena kamu tidak menyerah waktu itu. Terima kasih karena kamu tak pernah membiarkanku mengakhiri semuanya. Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, tahukah kamu, keras kepalamu itu mengantarkanku ke tempat aku berpijak sekarang?

Dan tenang saja, Aku yang Berusia Enam Belas Tahun. Meskipun pelupa, aku tak pernah ketinggalan kalau soal membalas budi. Aku mungkin belum punya jawaban atas semua pertanyaan yang dulu kamu tanyakan padaku, tapi hei, aku punya perban dan kasa, dan akan kubalut semua lukamu. Akan kulindungi kamu dalam dekapku, aku sekarang besar dan kuat dan bisa tertawa lepas dan bahagia. Akan kubelikan makanan kesukaanmu, semua mainan yang dulu hanya bisa kamu lihat dan idamkan.

Aku yang Berusia Enam Belas Tahun, dulu kamu mengusap air mataku dengan tanganmu yang berlumuran darah, penuh risa dan luka. Sadarkah kamu bahwa kelembutanmu membentukku, seperti seniman yang membentuk tanah liatnya menjadi guci mahal nan cantik. Maka aku kemudian berjanji, aku akan menepuk-nepuk kepalamu hingga kamu tidur, dengan tanganku yang lembut dan hangat.

Sekarang kamu sudah bisa beristirahat, Aku yang Berusia Enam Belas Tahun. Tutup matamu dan dengarkan lagu pengantar tidur yang aku lantunkan. Kuharap kamu cepat besar dan selalu sehat, karena sekarang aku akan memperhatikanmu dengan baik. Kamu tidak akan kubiarkan tersakiti lagi.

Suratku cukup sampai di sini, Aku yang Berusia Enam Belas Tahun. Ingatlah, aku akan selalu menyayangimu.

Salam sayang,
Bidadari Kecil.


Inspirations,

Ivy, M. (1993). Have you seen me? Recovering the inner child in late twentieth-century America. Social Text, (37), 227-252.

Noschis, K. (1992). The inner child and the city. Architecture & Comportement/Architecture & Behaviour, 8(1), 49-57.


Comments

Popular

Get to Know More About Psychoworld

#ranthings: When Things Don't Go As Planned

Yup, I Deserve Better: Pointing Out The Great Resignation

Normalize Mental Health