Ahahah How Cliché, Darling
“Bro, I ain’t no raging flames. I’m a delicate flower.”
Dia terdiam sejenak, kemudian tertawa di depan mukaku. Susah sekali dimengerti sepertinya bahwa aku ingin mendengar pujian lembut, diberi kode-kode implisit, atau melihat buket ketika dia bilang ‘ayo keluar makan.’
“Ahahah, sorry. How cliché, darling. I didn’t know you like mediocre things like those girls.”
‘Those girls?’
Percakapan malam itu berhenti di sana karena aku tidak suka konfrontasi atau mungkin memang butuh tenaga ekstra untuk mengungkapkan keinginanku. Ah tidak. Koreksi. Aku yang sebenarnya. Dia selama ini hanya tau aku yang meledak-ledak yang ditanggapinya juga seperti itu. ‘Fight fire with fire’ katanya.
Tapi aku lebih suka dimanja…
Long story short, ketika besok tiba, aku terkejut. Senin, tipikal yang membuatku membuka pintu depan dengan kesal dan terburu keluar. Namun aku tersandung sesuatu dan menimbulkan suara gemerisik yang cukup gaduh. Aku menoleh sekilas dan wow. I levitated.
Ada buket tipis yang diisi beberapa bunga yang sama. Tidak ada bunga inti, bunga pendukung, atau apapun itu. Hanya satu jenis.
Ok, ketika aku bilang I’m a delicate flower, aku ingin diberi bunga blabla, bukan berarti aku tau banyak jenisnya. Mungkin hanya mawar, atau melati yang tiba-tiba tumbuh didekat selokan depan rumah, oh, atau anggrek mama yang seringkali kusalahi sebagai parasit merambat.
Aku mengambil bunga yang dibungkus kertas coklat itu. Mengintip sekilas secarik kertas yang dijejalkan serampangan diantaranya yang kemudian kubaca, ‘nih. bunga.’
I stupidly giggled and then mendekatkan bunga itu kearah hapeku. Hm, google images of course. Dan apa katanya tentang nama si cantik merah muda ini?
Peony.
Bermakna kesembuhan, kehormatan, dan harapan. Dipercaya bisa menangkal mimpi buruk, hm.
Oh. Dan simbol kecemburuan Zeus terhadap kepintaran muridnya. That God for God’s sake…
Ingatanku berkutat cepat tentang alasan dia mengirim bunga ini. Foreshadowing? Atau simply karena maknanya bagus dan bunganya cantik? Yang kemudian kuingat bahwa nanti malam dia berjanji akan datang menemui mama bersama orang tuanya.
Aku menghembuskan napas merasa senang. Dengan buket ringan itu di tangan, aku membawanya bersandar di dada dan lenganku.
‘Hari ini kamu ikut denganku, peony.’
Esoknya, antisipasiku meningkat ketika membuka pintu depan. Sebagian diriku berpikir tidak mungkin dia akan mengirim bunga setiap hari. Aku tau bunga itu mahal. Dan lagipula, untuk apa aku punya banyak yang berbeda-beda? Aku tidak punya vas sebanyak itu juga.
Namun ternyata aku dihadapkan pada sebuah buket coklat lagi. Selama beberapa detik aku tersenyum senang kemudian bibirku mengerucut. Murni karena bingung. ‘Bunga macam apa ini…’
Jujur saja, dia tidak nampak cantik. Setidaknya, bukan seleraku. Tidak nampak seperti bunga yang biasa ditaruh ke dalam buket juga. Dia datang bersama dengan secarik kertas lain bertuliskan, ‘hehe.’
Hehe katanya. Mataku melirik kearah penelusuran google yang sudah penuh dengan tulisan menunggu untuk kubaca.
Birds of Paradise.
Pretty name. And… pretty flower I guess?
Arti bunganya apa? Represents paradise.
I giggled. Again. I can tell easily why this means paradise. Makan malam bersama kemarin berakhir baik. Sempurna malahan kurasa. Kita bahkan menentukan tanggal.
Aku menimang untuk membawa si mungil ini dalam perjalanan atau tidak yang kemudian kuputuskan untuk kutinggal dirumah. Ku sisipkan di dekat pintu depan sekaligus pamer barangkali nanti mama pulang dan bertanya padaku dari siapa buket ini.
Pagi setelahnya, aku mulai terbiasa dengan penampakan kertas coklat di depan pintu. Kali ini aku tau bunga apa ini.
Aster.
Bermakna apa? Bentar, I’ll google it first.
“Love” dan “Fidelity” dan “I won’t forget you.”
Aku menggigit bibir menahan senyum. Tentu saja aku ingat dia akan pergi ke luar kota selama beberapa minggu hari ini. Potongan kertas yang biasanya disisipkan kini mengandung lebih banyak kata, ‘play right here waiting-richard marx everyday, would you?’
Dalam perjalanan, ku putuskan untuk mampir ke florist dan gantian mengirimkan dia bunga. The one with the same meaning. Why? Cowok juga berhak dikasih bunga tau. Besides, I enjoy things like this. Pesan-pesan implisit dari bunga yang selalu kuterima. Feels like I’m in a rom-com situation.
Bunga matahari.
For optimism, loyalty, and wishing.
‘Here for you-firehouse added as well.’
Ku jejalkan serampangan juga kertas kecil itu. Seperti yang biasa dia lakukan.
Seminggu berlalu tanpa ada bunga sama sekali di pintu depanku. Aku mulai terbiasa dan lupa dengan rutinitas kecil itu hingga suatu siang mama berteriak bahwa ada buket untukku dan melemparnya ke sofa tempat aku tiduran.
Wow.
Buket kali ini besar. Dan bunga-bunganya sangat ranum. Mereka jelas favoritku. Bunga dengan banyak kelopak dan warna-warna tajam.
Ada tiga jenis bunga yang berbeda disana. Seperti biasa aku mencari tau siapa saja nama si cantik ini.
Hydrangea biru, dianthus putih-merah, dan marigold kuning.
Nama-nama yang cantik.
Sekarang mari kita lihat artinya…
/Blabber Note/
Trying to expand my writing style. How’s it works everyone? Hahah, just kidding. Been reading a lot of teenlit lately and looks like it does something to my atmosphere. Set it aside, how y‘all doing?
Your Crumbs,
Cherry
Idea Sources:
A hell lot of heart wrenching rom-com and symbolism wiki
Narration Sources:
All of those above and my thoughts
Comments
Post a Comment