i love you and i don’t want it
i love you and i don’t want it
(at least not all of it): sebuah narasi tentang mother wound
“My mother’s love is choking me.”
Lorde (The Love Club)
Sejak kapan Ibu bukan lagi ibu? Definisi ibu yang menangani semua urusan rumah, yang menyambut ketika berangkat dan pulang, yang selalu menyiapkan makanan di atas meja, yang selalu mengerti jalan keluar masalah. Bukan, bukan ibu itu yang kumaksud. Tetapi, ibu yang menyerahkan diri dan tubuh impiannya untuk membengkak selama sembilan bulan, yang terbangun setiap malam mendoakan keselamatan, yang menahan amarah karena tidak mau hal menjadi runyam, yang menjadi pelampiasan tiap siapa pun di rumah itu memiliki masalah. Sejak kapan versi itu adalah ibu yang kutahu?
Entah sejak kapan aku mulai melihat Ibu sebagai manusia biasa, bukan seseorang luar biasa yang terbiasa tahu segala hal. Sejak saat itu pula, aku sadar bahwa aku dan ibu sangatlah sama. Urusan sepele yang membuat kami terusik, bagian tubuh yang tidak disukai, atau pun sikap kami dalam merespon sesuatu. Memang tidak sekompak Nadin dan Nyiteung, atau Eva dan Sophia, tapi tidak bisa kusangkal, aku dan Ibu adalah mirip.
"Or was my rage my mother’s?
Or her mother? Or her’s? An inherited creature?"
Lidia Yuknavitch (Letter to My Rage: An Evolution)
Kemiripan itu sering membuatku membatin ketika kesal atau sedih. Apa Ibu dulu juga melalui semua ini? Merasakan semua ini? Seperti aku yang kini berusaha keras mengupas apel karena merasa payah sebagai wanita karier? Atau berpose sekian lama di depan cermin mencari pakaian yang layak? Terlalu mencolok, terlalu terbuka, terlalu pendek, terlalu panjang, kurang feminin, kurang bermerek, kurang cocok….
Aku harap ibu dulu tidak melalui semua itu. Namun, tampaknya aku salah. Ibu dulu hanya pernah mencoba blus dan kaus kaki panjang. Mungkin itu sebabnya ia begitu bersemangat setiap kali membelikanku pakaian. Ia selalu ingin mendandaniku secantik mungkin dan se-”eksperimental” mungkin. Sesuatu yang membuatku tumbuh dengan berpikir bahwa pakaian adalah segalanya dan aku akan tampak buruk apabila berpakaian buruk.
“You realize that you habitually thought of Mom when something in your life was not going well, because when you thought of her it was as though something got back on track, and you felt re-energized”
-Shin Kyung Sook (Please Look After Mom)
Melihat tumpukan piring di wastafel dan tanaman yang belum disiram pun juga membuatku kesal. Apa ini karena aku terbiasa melihat Ibu merawat semua hal di rumah tanpa terlewat? Kadang ketika sehabis petang, aku melihat Ibu duduk di ruang tamu dan membaca berita, kemudian Ayah berteriak karena tidak menemukan sepatunya, aku lihat Ibu menyahut dan bangkit dengan kesal pula. Mungkin itu sebabnya aku juga bangun dengan kesal saat sedang tiduran di kamar dan dipanggil untuk keluar. Tersebab karena mirip Ibu? Berpikir telah bekerja keras sepanjang hari dan berhak mendapat waktu tenang barang sejam?
“Mothers and daughters existing as wretched mirrors of each other: I'm all you could have been and you are all I might be”
-Honey Tuesday
Mengingat apa saja yang sudah Ibu usahakan agar hidupku baik dan mengupayakanku agar menjadi “orang”, tiba-tiba aku teringat pula, apa Ibu memiliki kesempatan itu? Seandainya tidak memiliki aku, atau kakakku, atau seorang suami, “orang” seperti apakah Ibu? Aku ingin mengandaikan seberapa hebat Ibu jika dirinya dibebaskan dari tanggung jawab dan “kelaziman” sebagai seorang perempuan, tetapi aku tidak bisa. Seumur hidupku, Ibu adalah Ibu.
Dan sekarang, setiap langkahku selalu terbayang pikiran bahwa, “aku harus menyenangkan Ibu,” atau “aku harus membanggakan Ibu”. Jadi, aku patuh. Aku berpikir semua yang diarahkan Ibu adalah baik dan aku akan celaka jika memutar balik perkataannya. Perasaan, sudut pandang, pikiran Ibu dan aku menjadi satu. Aku bahkan tidak mau bersusah payah mencari keinginanku sendiri karena keinginanku adalah keinginan Ibu juga. Kemudian, kusadari bahwa aku adalah pengecut.
Pengecutku adalah bersandar pada mimpi-mimpi Ibu yang tidak bisa dia selesaikan. Pengecutku adalah memegang erat ketakutan yang dulu dia rasakan. Pengecutku adalah berpikir aku akan berakhir sama seperti dirinya. Ibu bukan diriku ataupun hidup di dalam diriku. Benar aku meresapi dirinya, namun itu tidak menjadikan dia adalah aku. Aku tidak pernah menyalahkan Ibu atas hasrat dan amarah yang dia sendiri tidak tahu sebabnya. Namun, yang aku tau, aku akan menyalahkan diriku sendiri jika mereka lahir dan sehat di dalam diriku pula.
"Being the girl's mother, I should understand them more than anyone. But that's what's so frightening. I don't."
Jeffrey Eungenides (The Virgin Suicides)
Ibu sama sekali tidak pernah berteriak atau mendecak ke arahku. Cerita kawan-kawanku yang tidak pernah direngkuh, disajikan sarapan, dinyanyikan pengantar tidur, sangat tidak bisa kusetujui. Sejauh yang kuingat, ibuku selalu ada di sana. Dengan lembut dan pengertian. Dengan pelukan yang selalu terbuka lebar. Sayangnya, tidak dengan telinga yang siap mendengar. Penyesalanku adalah ibuku tidak bisa mengerti kesulitanku apabila bukan dia penyebabnya, atau sesuatu yang tidak pernah ia derita. Mungkin itu karena bukan sesuatu yang ia pelajari ketika tumbuh dewasa. Memiliki permasalahan dan memiliki seseorang yang duduk sabar siap untuk diceritakan.
“The way for a mother to prevent directing her rage to her daughter and passing down the Mother Wound is for the mother to fully grieve and mourn her own losses. And to make sure that she is not relying on her daughter as her main source of emotional support.”
-Bethany Webster
Aku dan Ibu bukan “the greatest duo” yang selalu dielu-elukan khalayak. Tetapi, kami cukup untuk berdua, tanpa ada orang lain, atau objek lain, atau emosi lain yang sering membuat pasang surut hubungan. Ibu mungkin berpikir bahwa aku, anaknya yang masih kesusahan menalikan sepatu sendiri ini, tidak mampu untuk mendengar ceritanya. Namun, aku ingin mendengar, dan bahkan jika aku tidak mampu mendengar, aku ingin menerima ceritanya.
Apa saja itu.
Semua hal yang lbu pendam, semua hal yang ia rahasiakan, semua hal yang ia takutkan, semua hal yang tidak ingin Ibu tahu tentang diri Ibu, aku mau tau semua itu. Dan aku harap lbu juga mau untuk mencoba hal itu denganku. Kita akan bisa mencari titik terang bersama, atau jika tidak ada titik terang, aku akan duduk di kegelapan bersama Ibu, dan aku tidak masalah. Aku hanya tidak ingin Ibu menyaksikan mimpi-mimpi dan kemarahan Ibu hadir di dalam diriku. Aku merasa bahwa itu bukan tempatku. If you love me like that, you love me in a way I don’t understand where it leads.
Looks like writing a longer essay than the previous one is my favorite sheesh. I poured a little feeling into it so I hope it's easier to understand, thank you.
Your Crumbs,
Cherry
Idea Sources:
Arulsubila, M., Dr. Subasree. (2016). Parenting Styles Influencing Personality Development of Catering Students. The International Journal of Indian Psychology. 4(1), 181-188.
Atlas, Galit. 2022. Emotional Inheritance: A Therapist, Her Patients, and the Legacy of Trauma. Boston: Little, Brown Sparks.
Coplan Robert J, Mila Reichel, Kimberly Rowan. (2009). Exploring The Associations Between Maternal Personality, Child Temperament, and Parenting: A focus on Emotions,
Personality, and Individual Differences. ScienceDirect. 46(2), 241-246. DOI: https://doi.org/10.1016/j.paid.2008.10.011
Euginides, Jeffrey. 1993. The Virgin Suicides. London: Bloomsbury Publishing.
Karen W. Ruebush. (1994). The Mother-Daughter Relationship and Psychological Separation in Adolescence. Journal of Research on Adolescence, 4:3, 439-451, DOI: 10.1207/s15327795jra0403_5
Lefkowitz, E. S., & Fingerman, K. L. (2003). Positive and Negative Emotional Feelings
and Behaviors in Mother-Daughter Ties in Late Life. Journal of Family Psychology, 17(4), 607–617. DOI: https://doi.org/10.1037/0893-3200.17.4.607
Lougheed, J. P., Koval, P., & Hollenstein, T. (2016). Sharing The Burden: The
Interpersonal Regulation of Emotional Arousal in Mother−Daughter Dyads. Emotion, 16(1), 83–93. DOI: https://doi.org/10.1037/emo0000105
Sokol, Rachel. 2022. Is Personality Genetic? Understanding Inherited Personality Traits. Diakses pada 8 Oktober 2022, dari https://www.familyeducation.com/genetics-pregnancy/is-personality-genetic
Sook, Shin Kyung. 2008. Please Look After Mom. New York: Alfred A. Knopf, Inc.
Webster, Bethany. 2022. Mother Wound Healing: Why It’s Crucial For Women. Diakses pada, 8 Oktober 2022, dari https://www.bethanywebster.com/blog/mother-wound-healing/
Yuknavitch, Lidia. 2020. Letter to My Rage: An Evolution. Scribd Originals.
Narration Sources:
All of those above and my thoughts
Comments
Post a Comment