The Desire to Show the Truth that Leads to Lies
Hello guys, ketemu lagi nih sama admin P!
Di postingan kali ini, aku mau ajak teman-teman untuk ngomongin jurnal yang berjudul Lying to Appear Honest, yang ditulis oleh Shoham Choshen-Hillel, Alex Shaw, and Eugene M. Caruso. Pada jurnal tersebut, dibahas suatu fenomena yang sering banget terjadi di sekitar kita, baik itu dialami oleh diri sendiri atau oleh orang lain. Kalau dilihat dari judulnya, teman-teman bisa menebak nggak, kira-kira apa sih yang akan kita bahas kali ini? Kalau belum, yuk ikutin sampai akhir!
Pernah nggak, waktu lagi ngerjain ujian, kamu ngerasa lancar dan bisa jawab semua soalnya, tetapi akhirnya kamu sengaja buat jawab salah di satu atau beberapa nomor untuk menghindari dianggap curang oleh orang lain? Atau mungkin, kamu pernah ada di situasi di mana gurumu meminta setiap siswa untuk menyebutkan nilai yang mereka dapat dari hasil ujian yang telah dikoreksi oleh masing-masing siswa. Walaupun kamu mendapatkan nilai sempurna, kamu sengaja menyebutkan nilai “palsu” yang telah kamu turunkan dari nilai aslinya karena khawatir dicap pembohong jika menyebutkan nilai yang kamu dapat. Nah, fenomena inilah yang mau kita bahas di postingan kali ini.
Kenapa ya, orang-orang cenderung memilih untuk berbohong?
Kita tahu, kalau berbohong adalah perbuatan yang salah, karena selain dipandang keliru secara moral, secara psikologis pun membebani. Tetapi, kebanyakan orang justru menggunakan berbagai alasan untuk berbohong hingga tumbuh menjadi kebiasaan Menurut Becker (1968), salah satu motivasi yang dimiliki oleh seseorang ketika berbohong adalah untuk memperoleh keuntungan materi. Walaupun nggak selalu begitu, tapi terkadang kalau ada peluang yang dapat menguntungkan kita berbohong tuh emang udah jadi “default” kita gitu lho, guys.
Tetapiii, nggak semua kebohongan dimotivasi oleh keserakahan. Dalam suatu penelitian terbaru, didokumentasikan bahwa orang terkadang berbohong untuk membantu atau bersikap baik kepada orang lain di mana kondisi inilah yang biasa disebut dengan kebohongan prososial. Kalau dalam jurnal yang lagi kita bahas ini, motivasi berbohong yang disarankan bukan didorong oleh keuntungan moneter atau kebajikan, melainkan oleh kekhawatiran untuk tampil tidak jujur. Kekhawatiran dengan penampilan ini dapat memotivasi orang, bahkan ketika orang lain sebenernya nggak memastikan langsung bahwa mereka berbohong. Kenapa tuh? Karena memang orang cenderung berbohong ketika hasil sebenarnya tuh unobservable daripada observable. Misalnya, kaya contoh yang aku bilang di awal, kita nggak ngasih tau ke guru kita tentang nilai ujian asli yang kita punya karena gurunya juga ngga memverifikasi kebenarannya. Makanya, kita takut nampak mencurigakan terus overthinking diomongin temen-temen kaya “Dih mentang-mentang guru/dosen nggak merhatiin, bisa-bisanya dia bohong dan ngarang nilai tinggi”.
Kebanyakan orang tuh memang peduli banget sama citra mereka 'kan ya, kaya pengen nunjukin sisi bermoral dan baik hati yang mereka miliki. Nah, dari situlah muncul fenomena “lying to appear honest” ini.
Dalam jurnal penelitian ini, eksperimen yang dilakukan adalah dengan berdasarkan pada hipotesis bahwa orang bisa berbohong untuk kerugiannya sendiri daripada kelihatan berbohong, karena kebenaran yang begitu menguntungkan pun justru jadi alasan orang tergoda buat berbohong. Cara yang dilakukan pun beragam. Peneliti sengaja melakukan eksperimen pada orang-orang dengan latar belakang yang berbeda agar hasil penelitiannya nggak cuma subjektif pada segelintir orang saja.
Jadi, penelitian dilakukan dengan pembagian 1a-1d, 2a-2c, dan 3a-3b. Dalam studi 1a-1c, memang terbukti kalau partisipan tidak melaporkan hasil yang sangat menguntungkan karena sesuai dengan teorinya. Mereka melakukannya karena khawatir jika mereka melaporkan kebenaran, maka akan terlihat tampil tidak jujur dan orang lain akan berpikir bahwa mereka telah melaporkan hasil mereka secara berlebihan untuk mendapatkan lebih banyak uang. Lain halnya dalam studi 1d, ternyata tingkat seseorang berbohong berkurang ketika orang lain akan memverifikasi kebenaran yang mereka ucapkan kalau misalnya mereka melebih-lebihkan. Di sana dibilang kalau partisipan menjawab secara berlebihan, ntar langsung ketahuan oleh sistem otomatis dan akan dianggap berbohong. Namun, sebagian peserta tetap berbohong dengan cara mengurangi laporannya karena mereka tau mereka akan kepergok sistem kalau jawab berlebihan aja, but kalau jawabannya dikurangin, ngga bakal ketahuan. Dengan demikian, temuan ini memberikan bukti bahwa pelaporan yang kurang dari peserta didorong oleh kekhawatiran dengan tampil sebagai pembohong.
Dalam studi 2a-2c pun ternyata sama-sama semakin membuktikan hipotesis pada penelitian ini. Bahkan, ketika menyangkut uang pun seseorang bisa berbohong agar ngga dianggap pembohong yang cuma ingin keuntungan materiil.
Nah lho, sudah bingung belum?
Ada yang berbeda nih dari studi 3a-3b. Di studi ini, peneliti menjelajahi tentang bagaimana cara orang menilai orang lain yang tidak melaporkan atau mengatakan yang sebenarnya tentang menerima hasil yang tinggi. Peneliti menggunakan data ini dengan tujuan untuk memeriksa apakah kekhawatiran orang untuk tampil tidak jujur dalam kasus seperti itu sebenarnya sah. Dalam studi 3a, ditemukan bahwa observer menilai seseorang yang melaporkan hasil tinggi tuh lebih negatif daripada orang yang melaporkan hasil standar. Sementara itu, dalam studi 3b menunjukkan bahwa ketika observer nggak mengetahui hasil sebenarnya dari seseorang, tindakan tidak melaporkan hasil tinggi memang membantu dalam memberikan tampilan lebih bermoral. Jadi, ketika hasil tidak diverifikasi kebenarannya, peserta yang berbohong untuk tampil jujur memang tampak lebih jujur daripada mereka yang melaporkan hasil nyata yang ekstrem.
Now do you get it?
So, ternyata hipotesis yang diangkat benar, guys, bahwa ketika seseorang memperoleh hasil yang menguntungkan, mereka mengantisipasi reaksi orang lain dan akhirnya lebih memilih untuk berbohong supaya kelihatan jujur. Dalam studi ini, ditemukan bahwa semakin ekstrim hasil yang dilaporkan seseorang, semakin dia dapat label sebagai orang “tidak jujur dan tidak bermoral” yang berarti memang berkorelasi dengan reputasi kejujuran seseorang. Well, memang nggak semua partisipan begitu sih, but one thing for suree, orang-orang yang lying to appear honest ini adalah tipikal orang yang lebih sensitif terhadap penilaian orang lain.
Namun, ada juga alasan lain yang bisa jadi penyebab seseorang melakukan tindakan tersebut. Pertama, mereka memang sengaja nggak melaporkan high status or value yang didapatkan karena kesopanan yang dijunjung tinggi (punten-able gitu deh ceritanya). Kedua, orang tuh bisa jadi sengaja nggak jujur supaya dia bisa dapat benefit menguntungkan lainnya. Sebenarnya, kalau kata Akerlof (1983), bersikap jujur itu adalah cara terbaik untuk tampil jujur, tetapi mungkin hal ini hanya berlaku di sebagian besar situasi saja. Why? Karena ya itu tadi, ketika bersikap jujur tampak mencurigakan, orang yang ingin terlihat jujur mungkin lebih baik berbohong. Nah, orang tuh bisa cepat banget notice kecurigaan yang maybe dimiliki orang lain itu, makanya akhirnya memilih untuk bohong.
That’s for today's content! Maaf kalau ada penjelasan di atas yang sulit dipahami. But, aku harap bermanfaat untuk pengetahuan kita semua, ya! Oiya, jangan lupa kalau ada yang ingin didiskusikan, boleh banget drop di kolom komentar untuk kita bahas bareng yaahh, hehe.
Byee..
Source:
Choshen-Hillel, S., Shaw, A., & Caruso, E. M. (2020, January 30). Lying to Appear Honest. Journal of Experimental Psychology: General. Advance online publication. http://dx.doi.org/10.1037/xge0000737
Comments
Post a Comment