Kebahagiaan Sejati: Menuju Kehidupan yang Bermakna

Psikologi Positif – Martin Seligman

Holla, Fellas! 

Kehidupan yang bahagia adalah impian dari banyak orang. Kita semua merasakan bahwa selama kita hidup selalu mengalami berbagai macam masalah yang mengganggu kestabilan kondisi psikis kita, baik dalam hal karir, pekerjaan, teman, keluarga, maupun masalah yang timbul dari kondisi kita sendiri. Namun, kondisi tersebut dapat kita lepaskan dan menuju kehidupan yang bermakna serta bahagia dengan manajemen diri yang baik. Oleh sebab itu, mari kita cari tahu bagaimana konsep Seligman dalam menerjemahkan jalan menuju kehidupan yang bahagia!

Biografi Martin Seligman

Martin Seligman & Positive Psychology: Theory and Practice

Sebelum membahas mengenai hidup yang bahagia menurut Seligman, perlu diketahui bahwa ia merupakan seorang psikolog Amerika yang menginisiasi konsep psikologi positif. Seligman, atau yang bernama lengkap Martin Elias Peter Seligman, lahir pada 12 Agustus 1942 di Albany, New York. Saat ini, ia menjadi profesor di Pennsylvania University. Teorinya tentang ketidakberdayaan yang dipelajari (learned helpness) sangat populer dalam lingkup psikologi. 

Pada tahun 1966, Seligman terinspirasi oleh Ivan Pavlov dengan percobaannya yang menggunakan anjing. Berdasarkan percobaan tersebut, didapatkan bahwa ketidakberdayaan itu dapat dipelajari. Menurut Seligman, optimisme berkembang dari learned helpness (ketidakberdayaan) dan pesimisme. Learned helpness dan pesimisme bukanlah bawaan keturunan atau suatu sifat yang tidak dapat diubah, melainkan didapat dari hasil belajar. Mekanisme kognitif yang dimaksud adalah explanatory style (cara seseorang memahami dan menjelaskan pada dirinya mengenai peristiwa yang dialami). Seligman menyimpulkan bahwa pesimisme merupakan dasar dari depresi, dan optimisme merupakan dasar dari kebahagiaan.

Psikologi positif

Psikologi positif merupakan aliran baru dalam psikologi yang digagas oleh Martin Seligman. Konsep psikologi positif dipikirkan sejak 1998 oleh Seligman sewaktu dia menjadi presiden APA dan secara resmi berdiri pada tahun 2000. Psikologi Positif merupakan ilmu pengetahuan tentang kebahagiaan yang didasarkan pada studi ilmiah yang menjadi pondasi dalam kajian teori psikologi positif. Psikologi positif lahir untuk mereformasi pandangan bahwa ilmu psikologi hanya bermanfaat untuk mengatasi atau menjelaskan permasalahan penyakit mental saja. Padahal, bahasan dalam psikologi tidak sesempit itu. Psikologi juga bermanfaat untuk orang yang  tidak mengalami penyakit mental. Apabila diterapkan pada orang-orang yang sehat mental, maka akan meningkatkan kebahagian mereka. 

Psikologi positif mengkaji mengenai pengalaman subjektif manusia yang bersifat positif di masa lampau, seperti kebersyukuran atau kepuasan hidup, kemudian di masa sekarang seperti kesenangan, kenikmatan-kenikmatan sensual, dan kebahagiaan, serta di masa depan seperti optimisme, harapan, dan keyakinan. 

Kebahagiaan

Portrait of happy beautiful happy youngwoman relaxing in park. joyful female model breathing fresh air outdoors and enjoying smell in a flower spring or summer garden, vintage tone

Sebenarnya apa yang dimaksud dengan kebahagiaan? Apakah ketika kita dipuji seseorang, ketika bertemu dengan gebetan, atau ketika kita memakan makanan kesukaan? 

Setiap orang memiliki pandangan atau tolak ukur yang berbeda-beda dalam mendefinisikan kebahagiaan. Beberapa hal yang telah disebutkan di atas adalah perasaan positif yang bersifat sementara, sehingga belum mencapai kebahagiaan yang autentik. Menurut Martin Seligman, authentic happines atau kebahagiaan sejati merupakan tujuan akhir kehidupan manusia. Artinya, tidak ada lagi tujuan lain yang hendak diupayakan atau dikejar setelah mencapai kebahagiaan tersebut. Segala aktivitas, kerja, dan segala daya upaya akan mengarah pada kebahagiaan. 

Sedangkan, tujuan lain yang bukan kebahagiaan atau hanya memberikan kebahagiaan sementara disebut dengan ‘tujuan sementara’, yang merupakan sarana dalam mencapai tujuan lain. Misalnya, seorang mahasiswa belajar sangat tekun supaya kelak lulus dapat memperoleh karir yang baik. Seseorang tersebut bekerja keras dalam kariernya, supaya ia dapat memberikan materi dan perlindungan atau rasa aman bagi keluarganya dan seterusnya.


Authentic happiness dimulai dari konsep Aristoteles tentang hidup yang  dijalani dengan baik yang disebut Eudaimonia. Kebahagiaan sejati sebenarnya bukanlah hidup yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, melainkan kehidupan yang bermakna, yaitu ketika virtues (kebajikan) setiap individu diwujudkan secara penuh. Menurut Seligman, authentic happiness ditandai oleh thrive/flourish yaitu ketika virtues dan strength  dapat terwujud secara penuh.


Flourish 

Flourish atau yang disebut thrive adalah keadaan seseorang yang  menunjukkan perkembangan yang optimal dan fungsi-fungsi yang berjalan dengan baik. Singkatnya, flourish adalah suatu kondisi saat seseorang telah mengembangkan diri secara optimal, sehingga dapat menjalani kehidupan dengan lebih baik dan bermakna. Sekilas hal tersebut mirip dengan aktualisasi diri. Namun, aktualisasi diri hanya bersifat filosofis dan tidak dapat diukur, sedangkan flourish dapat diukur. Cara mengukurnya yaitu dengan memperhatikan 5 aspek yang biasa disebut PERMA, yaitu positive emotions (P), engagement (E), positive relationship (R), meaning of life (M), dan accomplishment (A).


  1. Positive  emotion  (emosi  positif). Kita merasa bahagia karena kita merasakan emosi positif yang diperoleh melalui eksternal atau internal. Secara eksternal, emosi positif bisa didapatkan melalui pujian dan penghargaan dari orang lain, sedangkan secara internal dapat dengan cara bersyukur, menerima hal yang tidak sesuai harapan, dan bisa memaafkan. Emosi positif dibedakan menjadi dua jenis, yaitu kenikmatan dan kesenangan.   Kenikmatan berkaitan dengan hal-hal  yang bersentuhan secara fisik atau tubuh, seperti makan yang  enak  di  saat lapar, tidur di saat lelah. Sementara itu,  kesenangan  lebih berhubungan dengan intelektual dan kreatifitas, misalnya melakukan aktivitas menyenangkan seperti melakukan hobi atau berlibur. Jadi, hal apa yang dapat membuatmu merasa lebih baik?

  2. Engagement (keterikatan). Engagement  adalah  sebuah  kondisi dimana seseorang merasa menikmati, atau merasa senang melakukan aktivitasnya. Di saat  seseorang melakukan aktivitas tersebut, maka seluruh perhatian baik  fisik maupun psikis diarahkan secara  totalitas terhadap aktivitas tersebut (enjoy dalam mengerjakan aktivitas). Contohnya, seorang  atlet yang  berlatih siang dan malam secara rutin. Jadi, aktivitas apa yang membuatmu hanyut ke dalamnya?

  3. Positive  relationship  (hubungan  positif) atau  relasi  yang dibentuk  dengan  orang  lain  atau  dalam  masyarakat  luas. Hubungan positif dengan orang lain adalah sumber  kebahagiaan yang paling penting. Walaupun memiliki harta dan tahta, kalau ngga punya cinta atau hubungan yang positif dengan orang lain, misalnya keluarga, sahabat, atau pasangan bakal susah untuk bahagia. Jadi, siapa yang dapat membuatmu merasa sukacita dan tenang?

  4. Meaning (hidup yang bermakna). Meaning erat kaitannya juga dengan kebahagiaan. Semua tindakan yang  dilakukan oleh manusia didorong oleh  meaning (makna hidup) yang ada dalam  dirinya. Meaning berarti bahwa ia mengetahui makna eksistensi dirinya di dunia ini. Seseorang dapat melakukan sesuatu yang lebih untuk lingkungan di sekitarnya, misalnya melakukan kegiatan bakti sosial, menjadi relawan bencana erupsi gunung Semeru, atau sederhananya dapat dimulai dari berbagi dengan orang lain yang membutuhkan, bermanfaat bagi orang sekitar, atau bermanfaat bagi lingkungan hidup lainnya seperti hewan dan tumbuhan. Maka dari itu, meaning adalah hidup yang bermanfaat bagi lingkungannya. Jadi, hal apa yang menurutmu penting dan bermakna?

  5. Accomplishment (pencapaian). Pencapaian ngga harus tentang prestasi, pencapaian adalah merasakan kemajuan dalam hidup. Kemajuan dalam hal ini bisa dalam pengembangan diri atau mencapai tujuan yang diharapkan. Pencapaian  sebuah target juga sangat berpengaruh  pada tingkat kebahagiaan seseorang. Hal  itu tidak lepas dari sikap optimis dalam mewujudkan tujuan dan harapan menjadi sebuah kenyataan. Jadi, apa tujuanmu dalam hidup dan bagaimana dirimu ingin mewujudkannya?


Virtues & Strength

Virtues (kebajikan) adalah karakter seseorang yang dapat membedakan sesuatu yang baik dan buruk, serta memilih dengan tegas pada sesuatu yang baik. Virtues merupakan bagian dari karakter seseorang. Karakter ini merupakan identitas diri yang  dibentuk oleh pengalaman hidup. 

Virtues merupakan suatu konsep yang menjelaskan kebaikan utama yang unik dan maksud atau tujuan dari segala sesuatu. Sebagai contoh, virtue dari cabai rawit adalah memberi rasa pedas. Jika tidak dapat memberi rasa pedas pada masakan, maka sejatinya cabai itu menjadi tidak bermakna. Jadi, cabai rawit yang pedas adalah cabai yang virtuous. Sedangkan secara sederhana, strengths adalah berbagai rute untuk menuju virtues. Hal yang menjadi penting dalam pendekatan ini yakni setiap individu harus mampu menemukan beberapa aspek strengths serta mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari dalam segala kondisi (di rumah, sekolah, tempat kerja, dan sebagainya). Menurut Seligman, manusia enam (6) virtues  yang terdiri dari 24 strength, yaitu:

  1. Courage (keberanian).

Dalam hidup, seringkali kita dihadapkan pada tantangan dan hambatan yang terkadang mampu melemahkan kita sebagai manusia. Namun, keberanian, semangat, ketekunan, dan integritas adalah bekal dalam mencapai kebahagiaan yang sebenarnya. Dengan begitu, kita akan mampu menjadi pribadi yang tangguh dan kebahagiaan mungkin kita dapatkan di akhir perjuangan kita. Virtue Courage terdiri dari empat (4) strengths, antara lain yaitu:

  1. Bravery (keberanian), memiliki sifat berani dan yakin dalam menghadapi ancaman, tantangan, kesulitan, maupun penderitaan yang didapat. Seperti contohnya yaitu seseorang yang jujur dalam mengungkapkan kebenaran walaupun terdapat resiko di kemudian hari.

  2. Persistence (ketekunan), artinya memiliki kepribadian yang terus bekerja keras, berusaha tepat waktu, dan memperoleh kepuasan ketika menyelesaikan tugasnya.

  3. Integrity (integritas), berarti bahwa memiliki kepribadian yang menjunjung tinggi kejujuran, genuine, dan menjadi pribadi yang autentik dan tidak berpura-pura.

  4. Vitality (vitalitas/totalitas/penuh semangat), artinya memiliki kepribadian yang antusias dalam mengerjakan segala sesuatu dengan hati yang ikhlas.

  1. Humanity (kemanusiaan).

Seligman menyatakan untuk dapat mencapai kebahagiaan terdapat nilai-nilai kemanusiaan dan cinta. Nilai tersebut dapat diartikan sebagai manusia hendaknya memupuk kebaikan dan kedermawanan dalam kehidupan. Kebaikan dan kedermawanan akan membawa hubungan harmonis dengan orang-orang di sekitar kita. Mencintai dan merawat diri seutuhnya juga bisa menjadi sumber kebahagiaan yang sebenarnya. Dengan demikian, kita akan dapat merasakan kebahagiaan yang sejati. Virtue Humanity terdiri dari tiga strengths, yaitu:

  1. Love (kasih), ialah individu yang menghargai relasi yang baik dengan orang lain secara timbal balik.

  2. Kindness (baik hati), ialah individu yang berkepribadian baik hati dan suka menolong.

  3. Social intelligence (kecerdasan sosial), ialah individu yang peka terhadap kondisi orang lain, dan mengetahui sikap apa yang harus dilakukan agar membuat orang lain nyaman dengannya.

  1. Transcendence (transendensi).

Transendensi merupakan kekuatan emosi diri untuk menghubungkan diri sendiri dengan sesuatu yang besar atau permanen; misalnya masa depan, ketuhanan, atau alam semesta. Dengan begitu, kita akan lebih mensyukuri hidup, merasa cukup dengan diri sendiri, meliputi segala kelebihan dan kekurangannya. Kita merasa yakin terhadap kuasa Tuhan serta akan selalu menjunjung harapan dan optimisme terhadap hari esok yang lebih baik. Virtues Transcendence memiliki lima strengths, antara lain yaitu:

  1. Appreciate beauty of excellence (apresiasi terhadap keindahan dan kecemerlangan). Individu yang memiliki kepribadian ini adalah individu yang memperhatikan dan mengapresiasi sebuah kinerja, usaha, dan keindahan di berbagai bidang dalam kehidupan. 

  2. Gratitude (bersyukur). Individu ini memiliki perasaan bersyukur dalam segala hal baik yang didapat.

  3. Hope (harapan), pribadi ini berkeyakinan bahwa masa depan adalah sesuatu yang dapat diupayakan, dan memiliki harapan bahwa hal baik akan terjadi di masa mendatang, serta berusaha untuk mewujudkannya.

  4. Humor, seseorang yang senang membuat orang lain tersenyum dan tertawa.

  5. Spiritualitas. Individu yang memiliki spiritualitas mengetahui posisi dirinya di dunia dan berkeyakinan bahwa terdapat makna yang lebih tinggi dari alam semesta yang menjadi sumber kedamaian dirinya.

  1. Temperance (pengendalian diri).

Kebahagiaan dapat tercapai apabila kita dapat mengontrol diri, sehingga dapat menjauhi hal-hal yang dapat disesali. Virtues Temperance memiliki empat strengths, yaitu:

  1. Self-regulation (regulasi diri). Individu ini memiliki  kontrol terhadap dirinya baik emosi dan perilakunya. 

  2. Preudence (seksama). Individu ini selalu berhati-hati dalam setiap keputusannya, dan selalu mempertimbangkan dengan baik agar tidak terjadi penyesalan.

  3. Humility/modesty (kerendahan hati dan kesederhanaan). Individu ini tidak mencari atensi, dan membiarkan pencapaiannya yang berbicara. Ia tidak memandang dirinya sendiri istimewa atau di atas orang lain.

  4. Forgiveness and mercy (memaafkan dan berbelas kasih). Individu ini memiliki prinsip belas kasihan untuk memaafkan dan memberikan kesempatan kedua daripada balas dendam.

  1. Justice (keadilan).

Kebahagiaan ada ketika keadilan dijunjung tinggi, artinya tidak ada yang curang dan dicurangi. Sebagai manusia yang ada dalam suatu populasi, menghargai hak dan kewajiban antar sesama adalah hal yang penting dalam kehidupan sehari-hari. Apabila hak dan kewajiban berjalan secara beriringan, tentu tidak akan ada konflik yang menutupi kebahagiaan sejati. Oleh sebab itu, keadilan, kesetaraan serta kemampuan mengenali kewajiban dan hak perlu untuk sama-sama ditanamkan dalam benak kita untuk kebahagiaan bersama serta tidak lupa menghindari sikap menghakimi diri sendiri maupun orang lain. Virtues Justice terdiri dari tiga strengths, di antaranya yaitu:

  1. Leadership (kepemimpinan), pribadi ini hebat dalam memimpin kelompok dan mengorganisasikan berbagai aktivitas agar berjalan dan terlaksana dengan baik. Selain itu, juga dapat dengan menjaga keharmonisan kelompok sehingga semua orang terlibat dan dapat diakui.

  2. Fairness (keadilan), pribadi ini memperlakukan semua orang dengan adil tanpa memandang perbedaan yang ada.

  3. Citizenship (menjadi bagian dari kelompok masyarakat), pribadi ini memiliki perasaan setia dan berdedikasi terhadap rekan-rekannya serta bekerja keras demi keberhasilan kelompok.

  1. Wisdom of knowledge (kebijaksanaan pengetahuan).

Kebahagiaan bisa dicapai melalui rasa syukur yang timbul sebagai hikmah dari pembelajaran pada pengalaman hidup. Adanya pengalaman hidup mampu memberikan perspektif objektif yang berguna untuk memecahkan suatu masalah. Sehingga, kita dapat menjadi versi terbaik dari diri sendiri. Kita akan mampu mencapai kebahagiaan karena kita telah nyaman dan paham terhadap apa dan siapa diri kita, serta bagaimana lingkungan di sekitar kita. Virtues Wisdom of Knowledge terdiri dari lima strengths, yakni:

  1. Perspektif, pribadi ini selalu berusaha melihat dari berbagai perspektif dan memiliki cara pandang mengenai dunia yang masuk akal bagi dirinya dan orang lain.

  2. Love of learning (suka belajar). Pribadi ini sangat menyukai belajar hal baru di mana pun dan kapanpun, baginya segala tempat dan waktu adalah kesempatan untuk belajar.

  3. Open mindedness (pikiran yang terbuka), memikirkan dan memutuskan segala sesuatu berdasarkan bukti, data, dan fakta yang kuat.

  4. Curiosity (rasa ingin tahu). Pribadi ini memiliki rasa ingin tahu yang tinggi, sehingga tidak segan untuk bertanya bila tidak mengerti, dan suka mengeksplorasi hal-hal baru.

  5. Kreativitas. Pribadi ini tidak pernah puas terhadap sesuatu dan selalu berusaha menemukan hal baru untuk menggantikan yang lama yang lebih efektif dan efisien.


Kesimpulan 

Authentic happiness dimulai dari konsep Aristoteles tentang hidup yang  dijalani dengan baik disebut Eudaimonia. Kebahagiaan sejati sesungguhnya bukanlah hidup yang penuh dengan kesenangan dan kenikmatan, melainkan kehidupan yang “bermakna”, di mana virtues (kebajikan) setiap individu diwujudkan secara penuh. Menurut Seligman, authentic happiness ditandai oleh thrive/flourish yaitu ketika virtues dan strengths dapat terwujud secara penuh. Maka dari itu, kita harus memenuhi 6 virtues yang terdiri dari 24 strengths dalam kehidupan sehari-hari kita untuk mewujudkannya.


- Ricf





referensi:

Schultz, D. P., & Schultz, S. E. (2009). Theories of Personality, Ninth Edition. California: Wadsworth.


Seligman. (2005). Authentic Happiness: Menciptakan kebahagiaan dengan psikologi positif. (Y. Nukman, Trans.) Mizan.


Arif, Iman Setiadi. 2016. Psikologi Positif: Pendekatan Saintifik Menuju. Kebahagiaan. Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Utama.


Comments

Popular

Get to Know More About Psychoworld

#ranthings: When Things Don't Go As Planned

Yup, I Deserve Better: Pointing Out The Great Resignation

Normalize Mental Health