Did You Notice it on ‘Eve’?
Greetings!
A week has passed thankfully. Kalau kemarin kalian udah disuguhkan sama perspective of failure, maka untuk kali ini aku akan membahas topik yang, ya… masih dibilang bisa bergesekan sama itu. For this time, pembahasan yang akan kita dalami bersama adalah tentang elimination disorder.
“Wait… What is that …?”
Unlike y’all might think, disorder ini nggak ada hubungannya sama ketakutan untuk dieliminasi, dikucilkan, dan lain-lain. Instead, ini adalah masalah pengontrolan buang air pada anak-anak, baik buang air kecil maupun besar. Have you ever heard about it? Or.. have you ever thought about it?
Pada awalnya, aku juga enggak menyangka kebiasaan ngompol di anak-anak bisa disebabkan oleh masalah psikologis sih, ya walaupun enggak semua anak yang mengalami elimination disorder berangkat dari problem kondisi psikis. Menurut DSM-1V-TR (kriteria untuk klasifikasi gangguan mental), anak didiagnosis memiliki gangguan eliminasi apabila masalah tersebut muncul secara berulang (minimal 2 kali dalam seminggu selama 3 bulan berturut-turut) dan disertai dengan stress atau gangguan dalam bidang sosial, akademik, atau bidang- bidang penting lainnya. Ini juga biasanya difokuskan pada anak yang telah berusia lima tahun ke atas, yang sudah diajari toilet training dan umumnya sudah bisa mengontrol keinginan buang airnya sendiri.
Sejauh ini, apa kalian berpikiran apa yang aku pikirkan?
Pertama kali tahu tentang disorder ini, aku langsung mengira kalau anak pasti mengalami ketakutan berlebih atau kejadian traumatis yang mendalam pada masa kecilnya. Yah, gimana ya … kalian pernah nggak sih, nonton film dan kadang kalo tokohnya tuh lagi kepepet dan takut banget, tiba-tiba dia ngompol? Yang aku pikirkan kondisinya mirip-mirip itu, sih…
Dan ternyata, setelah aku baca-baca, my prediction is not entirely wrong, tho. Elimination disorder ini salah satunya bisa disebabkan oleh faktor lingkungan dan jenis pola asuh. Faktor lingkungan ini biasanya disebabkan oleh distres psikososial (kehadiran keluarga baru, ketidaknyamanan saat bepergian, berada dilingkungan baru, atau hal-hal yang tidak familiar dalam kegiatan sehari-hari). Kalau jenis pola asuh, biasanya anak dengan orang tua dengan jenis pola asuh yang otoriter dan permisif memiliki kecenderungan untuk mengalami kondisi ini.
“Aku kayaknya ngerti tipis-tipis deh otoriter itu gimana. Kalo permisif itu apaan kak?”
Aku jelasin dua-duanya aja yah. Pola asuh otoriter itu pola asuh dimana orang tua menuntut anak untuk menuruti semua perkataan dan keinginan orang tua, ketat, tegas, dan tidak memberi anak kebebasan berpendapat. Sementara, pola asuh permisif, yakni orangtua yang membebaskan anak dan memberi kelonggaran anak untuk melakukan apapun yang disukai. Jadi kaya kebalikannya gitu, deh.
“Oh, ngerti … so? Udah? Gitu doang, nih?”
Nope. Absolutely not, dong. Sesuai dengan judulnya, aku bakal kasih contoh nyata dalam salah satu tontonan yang lagi di-hype in sama mbak-mbak di coffee shop, nih. Apalagi kalau bukan di drama comeback-nya Seo Ye Ji a.k.a Eve!
“You mean … Seo Ye Ji ngompol, Kak?”
Noooo!! But, kalo kalian notice di episode awal-awal tuh, ada salah satu tokoh di Eve yang bernama Han So Ra. Nah, si So Ra unnie ini punya anak namanya Da Bi. Da Bi ini sering banget ngompol ketika lagi beraktivitas sehari-hari, bahkan dia harus pake diaper dan punya baby sitter khusus yang selalu siap sedia kalau dia ‘kelepasan.’ Selain itu, dia juga menjalani terapi seni untuk mengontrol kebiasaan buang airnya ini nih. Tapi, seperti yang kita semua tau, terapi apapun akan berhasil jika mendapat support dari keluarga dan kerabat kan, ya? Support itu penting, loh!
Sadly, Da Bi belum mendapatkan hal itu sepenuhnya. Oleh karena itu, ia tetap masih kesulitan mengontrol buang airnya, terlebih dalam situasi-situasi yang membuatnya takut seperti ketika diperintah kakeknya, mendengar ibunya marah, atau menyaksikan orang tuanya bertengkar. She’s just a kid after all. Gejolak emosi dan perilaku orang-orang terdekatnya pasti sangat penting untuk dia amati.
Kebetulan kedua orang tua Da Bi ini menerapkan pola asuh yang bertentangan pula. Yup, ibunya, Han So Ra sangat otoriter. So Ra ingin selalu dipandang tinggi oleh orang-orang di sekelilingnya sehingga ia mengharuskan putrinya untuk selalu berperilaku baik dan menguasai banyak hal. So Ra membatasi banyak hal yang dilakukan Da Bi seperti kapan saat bermain dan bahkan teman yang dimiliki Da Bi. Selain itu, Da Bi diminta untuk menguasai banyak hal pula ketika masih kecil. Terdapat salah satu adegan dimana Da Bi dipaksa untuk menjinakkan kuda menggunakan pecutan, bahkan ketika ia masih belum familiar dengan berkuda yang membuatnya ketakutan dan akhirnya mengompol.
Sebaliknya, Ayahnya–Kang Yoon Kyum–yang mengetahui bahwa anaknya sering dibatasi dalam apapun oleh ibu dan kakeknya, membebaskan semua hal. Ia mengabulkan semua keinginan Da Bi dan tidak pernah melarangnya melakukan ini itu. Fiuh… memang parenting itu enggak mudah ya teman-teman, karena kita membesarkan manusia lain dan manusia itu belajar dari kita sehingga kita harus benar-benar harus mengusahakan yang terbaik agar mereka enggak melakukan sesuatu yang bisa merugikan dirinya sendiri di masa depan.
Well, mungkin itu aja buat kali ini. This has been quite a long essay. I wish bahkan the slightest information dalam tulisan ini bisa bermanfaat buat teman-teman sekalian. Baiklah, aku undur diri. Farewell!
Your crumbs,
Cherry
Theories Sources:
Dulcan, Mina K. 2022. Dulcan’s Textbook of Child and Adolescent Psychiatry, Third Edition. Washington DC: American Psychiatric Association Publishing Noer
Mohammad Sjaifullah dkk. 2015. Gangguan Berkemih pada Anak. Surabaya: Airlangga University Press (AUP)
Narration Sources:
My thoughts
Comments
Post a Comment