Posts

Showing posts from March, 2024

Serenade

  Jeruji besi, rumah saya, Malang, 1990. Catatan ini sebenar-benarnya pencemoohan bagi lelaki pengecut yang enggan bersambut dengan keagungan rasa, teringin mencinta apa yang seharusnya dicinta, Saya. Tergulung segerombolan rahsa tak elak menjatuhkan saya jadi macam begini. Saya rela mati bila dipertemukan kembali dengan netra yang masuk terlalu dalam, mencekik kewarasan saya hingga terbui tanpa kendali.  Pula hati ini kerap terheran-heran — bagaimana Tuhan dengan luar biasa menghembuskan ikatan di antara ciptaan-Nya. Manusia hanya seonggok daging bernyawa yang perlu mengendus jalan untuk tetap menemukan setapak yang akan menuntun jauh, entah diterima atau justru berbalik arah. Dengan sembrono kami — manusia, terseok namun juga angkuh untuk patuh.  Catatan ini ditulis saat saya berhasil menebus dosa saya. Menghardik rasa yang turut dibawa pergi oleh ia yang mati. Sukma dengan keanggunan mutlak bergelut bersama persakitannya tanpa pernah tersentuh oleh saya. Dia terisak t...

Satu Langkah

  Hari itu, matahari bersinar terang di langit biru. Angin sepoi-sepoi menyapu lembut, membawa aroma bunga-bunga liar yang sedang bermekaran. Di taman kecil yang terletak di tengah-tengah kompleks perumahan, seorang anak laki-laki bernama Rama duduk di bangku kayu yang nyaman. Rama adalah anak yang istimewa. Dia memiliki senyum yang tulus dan keceriaan yang menular. Rama duduk di sana, menatap langit dengan penuh kekaguman. Tangannya yang kecil memegang selembar kertas dan pensil warna-warni. Dia sedang menggambar, kegiatan yang sangat dia sukai. Setiap goresan pensilnya menandakan kebahagiaan yang ada di dalam hatinya. Tiba-tiba, seorang gadis kecil bernama Maya mendekatinya. Maya adalah tetangga Rama yang selalu mengunjunginya setiap hari. Maya sangat menyayangi Rama, dan mereka berdua telah menjadi teman yang tak terpisahkan. "Rama, apa yang kamu gambar?" tanya Maya dengan wajah penuh keingintahuan Rama tersenyum lebar sambil menunjukkan gambar yang belum selesai. "In...