Serenade
Jeruji besi, rumah saya, Malang, 1990. Catatan ini sebenar-benarnya pencemoohan bagi lelaki pengecut yang enggan bersambut dengan keagungan rasa, teringin mencinta apa yang seharusnya dicinta, Saya. Tergulung segerombolan rahsa tak elak menjatuhkan saya jadi macam begini. Saya rela mati bila dipertemukan kembali dengan netra yang masuk terlalu dalam, mencekik kewarasan saya hingga terbui tanpa kendali. Pula hati ini kerap terheran-heran — bagaimana Tuhan dengan luar biasa menghembuskan ikatan di antara ciptaan-Nya. Manusia hanya seonggok daging bernyawa yang perlu mengendus jalan untuk tetap menemukan setapak yang akan menuntun jauh, entah diterima atau justru berbalik arah. Dengan sembrono kami — manusia, terseok namun juga angkuh untuk patuh. Catatan ini ditulis saat saya berhasil menebus dosa saya. Menghardik rasa yang turut dibawa pergi oleh ia yang mati. Sukma dengan keanggunan mutlak bergelut bersama persakitannya tanpa pernah tersentuh oleh saya. Dia terisak t...